Sumber: wikipedia


Bertahun-tahun lamanya, Pancasila selalu menjadi perbincangan. Salah satu topiknya ialah soal Harlah (Hari Lahir) yang sejak 2016 ditetapkan oleh pemerintah tangga 1 Juni. Semua lembaga dibawah keperintahan, bahkan swasta turut arahan tersebut, bahkan di tanggal 1 Juni diadakan upacara. Tanggal itu pula menimbulkan banyak tanya. Ini dapat dipahami karena sebelum reformasi bergulir, hari lahir Pancasila disebut oleh Orde Baru lahir pada 18 Agustus 1945. 

Jangan bingung dulu yaa, yuks kita pantau seperti apa gambarannya, silahkan disimak yaa.....

Tanggal 1 Juni lahir istilah Pancasila. Hasil usulan ketiga tokoh perumus dasar negara tersebut, ditajamkan/sinkritisme oleh Panitia Sembilan pada 22 Juni 1945 dengan nama Piagam Jakarta (yang nanti diletakkan sebagai bagian dari Pembukaan UUD 1945). Piagam ini kemudian diprotes oleh tokoh-tokoh Indonesia Timur, bahkan ngambek ngak mau gabung ke Indonesia. Untungnya, Bung Hatta turun tangan untuk negosiasi dengan Panitia Sembilan, maka lahirlah Sila Pertama seperti sekarang ini. Bisa kebayangkan kalau ngak ada peranan Bung Hatta ?....Hasil finalisasi, disahkan ke dalam UUD 1945, 18 Agustus 1945.

Fakta sejarahnya ialah “istilah” Pancasila lahir 1 Juni 1945 yang diusulkan Bung Karno. Pancasila yang kita kenal hari ini, lahir tanggal 18 Agustus 1945 hasil dari proses rumusan Tim. Dengan demikian, Pancasila yang dikenal sekarang adalah dari pergulatan pemikiran banyak orang yang melintas dari 1 Juni, 22 Juni, dan bermuara di 18 Agustus 1945.

Jaman Orde Baru, pakai 18 Agustus 1945. Jaman sekarang, pakai 1 Juni 1945. Ini dapat dipahami, karena setiap rezim memiliki cara juga kepentingan masing-masing. Kesimpulan akhirnya ialah: sejarah bisa “menentukan” isi kepala orang satu negara, bahkan lebih, dan itu tergantung “pihak mana yang menggunakannya”. Oleh karenanya, beberapa tokoh menyebutnya: Sejarah adalah “barang berbahaya”. Dimana bahayanya ?....kapan2 ya jawabnya….hehehehehe……