Disarankan: Tidak untuk Dibawah 17 Tahun

Banyak orang didunia ini yang menyenangi musik dengan kualitas tinggi, dapat dipastikan salah satu yang nyantol adalah Queen. Band asal Inggris ini merajai musik rock tahun 70-an, hingga kini. Mereka, para pemusik, mereferensikan "nafas musiknya" dengan alunan musik Queen. Jika ada band "mampu" membawakan dengan baik lagu-lagu Queen, maka dapat dipastikan rasa hormat dari mereka yang melihat/menonton akan diberikan, dan band tersebut dianggap "naik tingkat", dengan demikian posisinya di atas rata-rata. 

Di awal tahun 1990-an ketika televisi swasta di Indonesia mulai menggeliat, lagu Queen yang berjudul Bohemian Rhapsody meledak (lagi). Diterbitkan sebagi sountrack film komendi (Wayn's World), kedigdayaan Queen tak tergantikan, padahal ketika itu sang vokalis sudah meninggal karena penyakit AIDS. Vokalis yang bernama Freddie Mercury dapat dikatakan artis pertama dan fenomenal terkait penyakit yang menjadi momok bagi para pecandu narkoba dan "penjelajah seksual" diseluruh muka bumi ini. 

Penyakit ini menjangkiti Freddie Mercury ketika dia menjalani kehidupan glamornya sebagai rock star. Begitulah yang tergambarkan dalam film Bohemian Rhapsody (2018) yang banyak menuai pujian. Dari film ini, saya akhirnya menemukan jawaban kenapa kaum Gay, di Indonesia khususnya, menamakan salon mereka sebagai "salon kucing". Rasanya gaya Gay di tahun 1980-kini, merujukkan kepada Freddie Mercury, padahal dia adalah Biseksual. Kini, Queen memiliki vokalis cabutan (Feat.) bernama Adam Lambert yang juga Gay. Dia memiliki gaya rambut rapi, setelah menawan, dengan jambang dan  jenggot halus, juga menjadi "milik" gay di Indonesia. Gay millenial di negara ini, jauh berbeda gaya 10-20 tahun lalu. Gaya mereka mendekati Adam Lambert.

Sementara itu, ruang untuk mereka tidak sebebas seperti dinegara-negara liberal di luar negeri sana. Bangsa yang sarat sandaran adat, budi pekerti luhur, dan tentunya agama seperti Indonesia ini, rasanya sulit menyetarakan mereka dengan orientasi keperibadi dan seks yang ada. Walaupun demikian, mereka ada, nyata, dan memiliki komunitas yang stabil.

Bisa terbayang, dilarang saja mereka bisa berbuat demikian (komunitas dan seksualitasnya) dimana sudah banyak pemberitaan tentang penggerebekan "pesta seks gay". Bagaimana jika mereka dilegalkan ?. 

#ampunDJ


Sumber Foto