Nyaris 100 persen, negara-negara di dunia memiliki jendral di angkatan perangnya. Jendral menguasai sekian luas areal pasukan yang berada dibawahnya. Jendral menjadi penentu perang fisik. Banyak jendral dalam sejarah yang memiliki kemampuan luar biasa karena sudah teruji dan terbukti dalam berbagai medan perang.

Oleh karena menentukan, bisa jadi jendral adalah target utama musuh-musuhnya, baik itu dalam tubuh angkatan perang maupun diluarnya. Penculikan dan pembunuhan 7 jendral dalam peristiwa 30 September 1965 di Indonesia membenarkan uraian kalimat diatas. Di kancah internasional, hal demikian serupa.

Kenyataan sejarah juga memberitahu kita bahwa kaum pemenang, dalam hal ini jendral adalah yang akan menuliskan kisah suksesnya. Tak ayal, perkataan "History Written By The Winning General", semakin menegaskan bahwa sejarah seringkali tak berimbang. Memang seperti itulah sejarah, dia tidak akan menjadi netral misalnya, atau terlihat adil. Sejarah itu sudah pasti memihak, dan seharusnya memang demikian. Sejarah memihak kepada keadilan, sejarah memihak kepada oarang yang terpinggirkan, sejarah berpihak kepada gerakan anti korupsi, sejarah berpihak kepada kejujuran, dan lainnya yang menguntungkan orang banyak, kini dan untuk generasi selanjutnya. 

Dengan demikian, membangun, menciptakan sejarah, dan "belajar sejarah" menjadi penting, dan jauh lebih penting lagi ialah "belajar dari sejarah".....