IMG_0105

Gn'R adalah salah satu band rock kesukaan saya sejak duduk di bangku SMP hingga kini. Saya dan temen-teman "putih-biru" biasa mengejanya dengan bunyi: "ge, en, er". Kerika Metallica konser di Lebak Bulus, maka hiruk pikuk akan datangnya Gn'R semakin menggila. Saya merasakannya itu, namun kemudian diganjar dengan album baru mereka "Spageti", dan rumor Gn'R vakum semakin santer. Majalah HAI yang merupakan majalah remaja kala itu menjadi corong utama perkembangan musik dunia, utamanya yang disorot: Gn'R.

Mengikuti perjalanan mereka, hingga personilnya hengkak satu-persatu, dan "lenyapnya" frontman Axl Rose tidak membuat saya hilang fokus. Setiap ada kesempatan info di buku, majalah, televisi, hingga belakanagan: internet, selalu saya pantengin.Saat sudah bekerja, maka CD, DVD, buku, dan majalah saya buru. Kegandrungan saya terhadap Gn'R begitu diperhatikan wanita yang kini menjadi istri saya. setiap ada simbol, gambar, berita Band Paling Berahaya di dunia, dia selalu mencolekku untuk sekedar menyimaknya. 

Tahun 2010, Jakarta-Surabaya dikagetkan kedatangan Slash dan bandnya. Saya tidak nonton konsernya, malahan memilih in festival D konser Iron Maiden. Dua tahun setelah itu, 2012 genap Axl Rose berumur setengah abad, kerinduan akan nonton secara langsung, live akhirnya terbayar. 

Saya masih ingat peristiwa itu....

Bangun pagi, badan rasanya masih pegal dan mata masih ngantuk. Jadwal penyelesaian kerjaan kantor yang banyak buatku bangun lebih awal, seakan terjaga sepanjang malam, tidur tak nyenyak. Namun demikian, show must go on. Barangkali persis yang promotor lakukan ketika Sabtu, 15 desember 2012, harus memutuskan untuk menunda konser Guns n’ Roses (Gn’R). Sekali lagi, show must go on!.

Sambil kerja, nge-blog ternyata bisa (selama ini kan begitu, dul ! *sambil tundukan kepala*)….

Bagiku, konser 16 Desember ini, amat berbeda dari konser yang pernah ku tonton selama ini. Setidaknya, ada satu alasan utama untuk menjelaskannya, yakni karena konser Gn’R ini adalah konser penantianku selama 20 tahun. Saat duduk di bangku SMP,  nonton konser Gn’R telah menjadi cita-cita, kemudian berubah menjadi “mimpi”, terlebih akhir tahun 1990-an, personil klasik Gn’R pada henkang, kecuali Axl. Dalam konser itu, aku teriak:  “it’s like a dream comes true!, i’ve been waiting this concer for twenty years”. Di sampingku, sambil menoleh ke arahku teriak juga: “gue malah nunggu 30 tahun!”. Para penonton memang benar-benar menunggu momen ini, dan hampir dapat dipastikan mereka adalah penonton “bermutu” aka bermuka tua. Umur mereka rata-rata antara 30 sampai 60-an tahun. Ini aku temui sejak dari parkiran, antri tiket, hingga di tempat konser aku berdiri.

Mereka ini berasal dari berbagai wilayah, ada yang dari dalam Jakarta, luar Jakarta, luar Jawa, hingga luar negeri. Seakan terlihat, di MEIS Ancol sebagai ajang ngumpul bareng Gunner (fan Gn’R), khususnya mereka yang mau nonton di Jakarta. Bagaimana tidak?, selain ditunggu-tunggu, konser Gn’R ini adalah satu-satunya di Asia Tenggara. Ancol ramai dengan atribut Gn’R dan Gunner.

Sejak di pintu masuk Ancol, hiruk-pikuk gunner amat terasa. Kaos dengan gambar Gn’R adalah “tanda” meraka yang akan nonton konser. Terlebih di antrian gate. Kami sampai di MEIS Ancol sekitar jam 11 kurang beberapa menit. Panas terik, tak membuatku melipir ke pinggir, namun ketengah untuk mengantri. Sesuai berita yang diterima, gate open jam 11 siang. Sekitar 30 menit kemudian, gerbang dibuka, ticket checking dilakukan. Menuju tangga bertemu petugas, setelah ceking. Kami langsung lari menuju pintu sesuai tiket. Keadaan mulai ramai, teriakan untuk minta dibuka terbilang keras. Tidak lebih mengantri 5 menit, pintu menuju Indoor di buka. Penonton berhamburan mencari posisi yang tepat. Sesuai tiket, penonton mendapat gelang kertas yang rekat sekali lemnya.

Panitia, khususnya petugas di pintu VIP, Festival A, dan Festival B terkesan tidak siap dengan membludaknya penonton. Tidak ada jaminan mereka masuk sesuai tiket, namun tak berselang, keamanan di pintu diperketat. Kami yang mau “pindah” ke Festival B tidak berhasil. Kami memilih untuk di tangga menuju ke balkon / tribun. Oleh karena mulai banyak yang menempati tangga, petugas kemudian mengusir kami agar duduk di atas. Kami tak merasa nyaman karena terlalu jauh pandangannya. Kami cari posisi lagi. Tribun dengan lantai dasar tempat Festival A dan VIP berada hanya bertaut sekitar 7 meter tingginya. Aku loncat-pun tidak akan terluka. Syukurnya, aku tidak mau melakukannya karena telah menemukan tempat ternyaman dengan harga Festival B namun viuw VIP. Kami akhirnya menetap di Tribun sebelah kanan panggung. Wah, manteb banget!. Aku sempat berbaring, seperti di tangga, untuk meluruskan badan yang cukup lelah, mulai dari perjalanan hingga antri di pintu utama.

Pukul sudah menunjukkan 13.00 WIB ketika kru Gn’R mulai men-set panggung. Sekitar 30-an menit, sontak penonton yang tadinya duduk-duduk, termasuk kami, langsung berdiri. Layar latar panggung memunculkan logo Gn’R, sorak riuh semakin menjadi ketika rombongan Jokowi memasuki lapangan konser VIP. Kontan, perhatian tertuju kepada “Gubernur Metal” ini. Sayangnya, Jokowi tidak menyalami penonton, maaf, yang cacat. aku melihat dan mengabadikannya, ada dua penonton ber-kursi roda (satu di tempat khusus, satunya lagi di VIP) dan satu penonton yang memakai tongkat.

Cek sound kemudian melemah, dan pukul 13.45, DJ Asba naik ke atas drum. Sayatan gitar lagu Chinese Democracy awali konser yang menurutku tanpa basa-basi ini. Jokowi keluar sejam kemudian yang disusul dengan lagu Knockin’ on Heaven Door. Konser ditutup dengan lagu Paradise city dan waktu menunjukkan pukul 16.45 WIB. Selama konser 3 jam itu, aku tak berhenti bernyanyi dan  “snake dance” *dance like Axl*, kecuali saat Gn’R nge-jam dan lagu baru mereka di nyanyikan. You know? I’m The Big Fan of Gn’R!. *penonton dibelakangku dalam hati berkata: neh orang ngak cape apa?, nayanyi semua lagu?*.

Berita yang tersiar di portal berita, dikatakan bahwa Gn’R membawakan 30-39 lagu kurang lebih 3 jam. Di depan sekitar 20.000 penonton, minggu siang itu, Gn’R membawakan lagu-lagu sebagai berikut :

chinese democracy

it’s so easy

welcome to the jungle

estranged

mr.brownstone

rocket queen

sweet child o’mine

nightrain

patience

the blues (street of dream)

cathcer in the rye

november rain

this i love

knockin’ on heavens door

you could be mine

civil war

better

live n let die

Indonesia Raya

dont cry

lagu baru/cover (ngak ada di album Gn’R) dinyayikan Tommy Stinson

lagu baru/cover (ngak ada di album Gn’R) dinyaynyikan Bumblefoot

lagu baru/cover (ngak ada di album Gn’R) dinyanyikan Axl Rose

Setidaknya dalam konser ini, Gn’R melakukan Jamming sebanyak 3 kali dan intro hampir setiap lagu lumayan agak lama. Suara dan stamina AXl Rose, aku ancungkan jempol. Mobile dan suaranya masih mampu tinggi dan panjang. Lagu-lagu seperti don’t cry, civil war, sweet child o’mine, knockin’ on heaven door, dan estranged, dinyanyikan Axl dengan amat baik. Perfect !. Penantian 20 tahun terbayar sudah. Bokin nanya: “dah puas Mas liat Gn’R?”. Puas banget, apalagi nontonnya sama kamu….#asyikk