Channel Baby Monkey Indonesia Setelah Prahara Melanda


Sempat terucap ditahun 2020 dengan kata "parah ini" terhadap video pada channel milik orang Indonesia. Ucapan itu keluar secara spontan melihat bagaimana monyet diperlakukan. Saat itu tidak pernah menyangka jika kemudian begitu berpengaruh di tiga bulan pertama ditahun 2021. Beberapa yang terkena dampaknya menyatakan bahwa channel monyet Indonesia "di-takedown" dan tidak mengerti kenapa bisa terjadi, dimana letak kesalahannya ?. Sementara itu, harus diakui bahwa channel luar negeri, perlakuannya juga parah-parah namun tidak di-take down. Ada channel milik warga di Asia Tenggara yang menempatkan monyetnya seperti "sparing partner", pada channelnya dipertontonkan bagaimana si empunya, melempar monyetnya, menjewer, membentak/memaki, memukul berkali-kali, bahkan menggigit monyet yang dipeliharanya. Judulnya juga provokatif: You bite my hand, Now I bite you head back !! How do you feel ! Hurt !!.  Sekali lagi, masih banyak yang lebih buruk, namun seakan tidak berlaku untuk mereka. Hingga kini channel-channel "kekerasan terhadap hewan" aman-aman saja. Melihat ketimpangan yang dirasakan ini, beberapa youtuber monyet Indonesia mengharapkan adanya klarifikasi dan keadilan ingin mendapat perlakuan yang sama, sederajat. 

Harapan hanya sekedar harapan, harapan hanya berkembang dintara youtuber dalam frekuensi yang sama. Memperbaiki adalah jalan yang mau tidak mau adalah menjadi pilihan yang masuk akal bagi mereka penghobi monyet. Di bulan Maret 2021, channel monyet Indonesia mulai berbenah diri. Ada yang mengubah tulisan judul yang dianggap sensitif terkena "semprit", mengganti gambar sampul "thumbnail", juga merevisi nama channelnya. Selain itu, ada pula yang konten videonya langsung "banting stir" menjadi "malaikat" bagi bayi monyet. Dari apa yang diusahan tersebut, jelas prahara ini benar-benar mengganggu. Video "tiba-tiba" menghilang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, menjadi pelajaran berharga bagi mereka. 

Setelah proses awal pada bulan Desember 2020, pengaduan dengan isu pokok "penganiayaan hewan" kemudian ditanggapi oleh pihak Youtube pada bulan Januari 2021. Satu channel booming secara nasional dan internasional di dunia maya dan berita. Januari dan Februari channel dengan jumlah subscriber diatas 2-5 ribu dengan ribuan jam tayang "rontok satu persatu" hingga tulisan ini dibuat. Sekali lagi, batasan “penganiayaan hewan” yang tidak diterima dengan baik bagi youtuber monyet Indonesia terlebih channel luar negeri yang lebih parah ternyata masih baik-baik saja, membuat kebingungan di sana-sini lalu memilih “tiarap”, sambil mencoba bangun kembali. Kini, channel monyet milik orang Indonesia mengalami "perubahan warna dollar-nya". Pola hukuman yang amat memukul bagi mereka yang orientasi nge-yutube-nya hanya uang.

Berbeda dengan saya yang baru membuat video tentang monyet di awal Maret 2021, namun untuk bahan pelajaran. Orientasi ke bidang pendidikan menjadi target utamanya. Saya tidak merasa galau jika “dihapus video-videonya”, toh ini bukan untuk mendulang dollar. Oleh sebab itu ketika ada yang koment dengan nama “dollar” yang jelaskan apa adanya. “RAME KLO SUDAH MONYET, TP DOLAR KUNING OM!”, koment pengunjung. Dengan sigap membalas: “saya sudah denger dari temen2 channel monyet soal dollar kuning. saya sudah mengenal mereka sejak tahun lalu ketika dollar selalu hijau, namun baru sekarang saya buat soal monyet ketika dollar kuning. Ini bukan soal dollar, tapi semata-mata sebagai bahan/sumber belajar bagi mereka yang membutuhkan. Begitu banyaknya video monyet, sayang jika tidak diolah untuk yang lebih bermanfaat dari hanya sekedar dollar. Saya juga menulis tentang monyet di blog karena saya menyukainya. terima kasih sudah berkomentar”.

Keinginan membuat video ini muncul ketika menonton ratusan bahkan ribuan video-video monyet sambil mempelajarinya tanpa menulis. Saya berfikir, video-video yang jumlahnya banyak itu bakalan memiliki manfaat yang minim untuk dipelajari jika berserakan. Dengan dasar inilah, saya bangun tayangan dengan tema-tema tertentu dengan kata kunci: “Monkey Behavior”. Video yang muncul di channel saya diharapkan menjadi bahan materi pembelajaran bagi siswa, mahasiswa, atau pembelajar lainnya. Apa yang disebut “kekerasan terhadap hewan”, bahkan dimunculkan. Dengan hastag “Perilaku Monyet” memudahkan kepada pembelajar melihat bagaimana perilaku primate ini diberbagai situasi. 

Sebagai penutup, saya berdo’a semoga saja dalam tahun ini laptop saya yang rusak dapat segera diperbaiki, dan dengan demikian video-video yang sudah dihapus dari channel yang dianggap bernasalah dapat dimunculkan kembali. Sekali lagi, untuk bahan pembelajaran akademis, dan semoga untuk segenap yutuber agar tidak melakukan hal yang sama sambil berharap mendapat pula perlakuan yang sama sebagai salah satu elemen penting dari apa yang disebut sebagai KEADILAN. 

Oya, seperti apa penuturan youtuber monyet Indonesia yang terkena "take down", silahkan tonton :

Posting Komentar

0 Komentar