Membuat channel di Yotube sekarang ini semakin semarak. Pandemik di republik ini membuat orang harus kreatif, bahkan di rumah sekalipun. Hingga akhir tahun 2020, dari sekian banyaknya varian salah satu yang trendy adalah channel bayi monyet (baby monkey). Channel  buatan orang Indonesia ini, apabila dibanding dengan channel serupa di negara-begara di Asia Tenggara dan Cina, Indonesia tergolong yang belakangan berkembang.

Sebelum saya menulis tentang channel baby monkey, saya sudah mendalaminya dibeberapa bulan sebelum belakangan dengan menjadi subscriber plus lonceng tentunya, bahkan saya dapat dibilang adalah subscriber yang menjadi saksi mata lahir dan berkembangnya channel monyet yang ada di tulisan ini pada tahun 2020 hingga kini di bulan Maret 2021. Uraian yang para pembaca akan lumat ini merupakan tulisan saya yang ketiga.  Tulisan Pertama tentang monyet berjudul “Beda antara Monpai dan Beruk” dan yang kedua berjudul "Perilaku Monyet : Sebelum di Jual". Tulisan pertama ini mendapat masukan, dan tulisan kedua diintegrasikan dengan channel saya (krantoa channel) yang juga merupakan video pertama tentang monyet. 

Tulisan yang ketiga ini, tak lain dan tak bukan, karena kesukaan saya terhadap hewan lucu dalam channel youtube, baby monkey. Istri saya awalnya suka ngomel-ngomel, “langganan internet isinya cuma liat monyet doangan”, celotehnya. Seiring berjalannya waktu, lama kelamaan menjadi tenang dan meneriman. Hal demikian salah satu penyebabnya, menurut istri, si pemilik channel ternyata bersahabat. Istri merasa senang jika saya menjalin persahabatan, seduluran dengan berbagai kalangan, walaupun kini baru sekedar melalui komentar-komentar di channel youtube dan via WA alias tidak bertemu nyata. “Salut, bisa ngobrol kaya temen ya Pa, kaya anak-anak burung’, ucap istriku. Kebetulan di rumah hewan peliharaan saya adalah burung kicau yang tidak pernah mau saya lombakan di latber dan latpres di berbagai tingkat. Anak burung (kicau mania) dikenal istri adalah sosok yang ramah, dan gemar membangun tali silaturahmi “seduluran selawase”.

Citra bersahabat dan akrab, saya sebut begitu karena memang orang Indonesia yang begitu ramah, sehingga komentar saya di channel yotube diberikan respon/tanggapan selayaknya menjadi sebuah percakapan. Inilah sebenarnya tentang tulisan kini. Sebagai pengetahuan saja, saya mengikuti/subscriber lebih dari 200 channel tentang monyet, baik itu monyet sebagai pet (peliharaan), ataupun monyet yang di videokan di alam bebas, baik itu milik orang Indonesia, ataupun milik orang dari negara lain, baik sejak monyet dari lahir (new born) hingga tua renta, dari yang lucu sampai yang renta, semua saya menyukainya. Saya begitu menikmatinya hingga kini, bahkan tidak cukup hanya nonton di Youtube, saya kemudian menyimpannya di laptop, sehingga saya dapat mempelajari karakternya lebih lanjut. Sungguh disayangkan, ratusan giga bites, ratusan video "lenyap" tak kala laptop saya mati. Kini dengan laptop yang berbeda, hal serupa dilakukan. Simpan video, tonton, pelajari, dan dibuat kumpulan video kembali dengan tema tertentu untuk disebar sebagai salah satu alternatif bahan beajar tentang monyet. 

Bisa dapat berbeda atau serupa dengan hewannya, si pemilik channel yang sering saya kunjungi sekaligus dikomentari juga memiliki karakter tersendiri. Ada yang saya komentari yang isinya sekedar pernyataan, atau juga pertanyaan, si empunya channel langsung memberikan respon, menanggapinya dengan baik, lucu, bahkan ada yang mengajaknya untuk berkunjung ketempatnya. Khas Indonesia, bukan ?, so friendly. Selain itu ada yang meresponnya jarang-jarang, dan ada pula yang tidak sama sekali menanggapi komentar saya.

Melihat kondisi ini, rasanya penting untuk memunculkan-diabadikan ke dalam tulisan. Saya sudah mencatatnya dengan baik, channel mana saja yang gemar membalas komentar saya dan yang tidak pernah membalasnya. Begitu banyak channel yang saya ikuti sebagai subscribernya, saya batasi kepada 2 kriteria, yakni:

1. channel yang berbahasa Indonesia (milik WNI), dan

2. enempatkan monyet sebagai peliharaan (pet).   

Berdasarkan kriteria itu, saya mencatat ada 4 channel monyet yang gemar membalas komentar saya. Keempat channel bintang kelas ini, disusun bedasarkan abjad, bukan rangking seperti di sekolah. Kempat channel tersebut adalah ABANG SATWA, Baby Monkey Minul, Monkey Javin, dan monkey shiro.

Sebaliknya, saya mencatat ada 3 channel yang tidak pernah membalas komentar saya. Sama seperti sebelumnya, ketiga channel bintang kelas ini, disusun bedasarkan abjad, bukan rangking seperti di sekolah. Keempat channel tersebut adalah baby monkey channel, Monkey Baby Channel, dan Monkey baby Macaque.

Demikian catatan saya selaku subscriber-nya. Saya merasa senang bisa jadi subscriber semua channel tersebut karena memang saya hobby dengan monyet, dan saya menjadi salah satu saksi mata sedari awal berkembangnya channel tersebut. Saya do’a kan kalian menjadi semakin baik. Jangan sampai kalah dengan channel monyet dari Kamboja, Vietnam, Kamboja, Malaysia, dan Cina. Ayo semangat, bravo Indonesia !.