#pelatihanbelajarmenulis G-17 P-24: Umi Rosidah: "GURU MULIA KARENA KARYA"


Jum'at, 26 Februari 2021, mulai pukul 19.00-21.00 WIB, program pelatihan belajar menulis digelar. Dengan moderator Sucipto Ardi, kegiatan dimalam Sabtu ini dibuka dengan mengucapkan Basmallah. setelah prolog dari moderator yang berisikan point peting terkait susunan acara dan tata cara bertanya, ibu nara sumber (narsum) segera memulai paparannya. Narsum kali ini ialah Umi Rosidah. Setelah membaca CV beliau, satu hal yang pantas disematkan ialah: berprestasi. Ya, ibu narsum kali ini ialah sosok yang berprestasi.

Beliau berbagi gambar berikut:


Diakuinya, kata-kata tersebut: "Guru Mulia karna karya", yang menjadi pelecut baginya untuk terus belajar dan berkarya. Wujudnya ialah karya dalam menulis. Menulis bukan untuk menjadi juara, namun untuk anak didik. Modal utama menulis ialah membaca. Membaca dilakukan guna memperkaya khasanah keilmuan dan dengan  membaca dapat melakukan sintesis pemikiran.Membaca menjadi basis untuk mampu dapat menyajikan tulisan yang berkualitas sesuai dengan ciri pribadi dan bukan hasil duplikasi karya orang lain. Kembangkan keduanya, membaca juga menulis, ditambahlagi dengan melakukan penelitian. Sempurna.

Menurut Narsum, setidaknya ada 2 alasan kenapa dirinya harus menulis. Berikut alasannya:


Hal demikian semakin menguatkan dirinya, tak ayal berbagai prestasi diraihnya. Tingkat propinsi hingga nasional pernah diraihnya, bahkan mendapat kesempatan selama 21 hari short course di Jepang. Dibalik kesuksesannya, narsum pernah juga mengalami kesulitan-kesulitan dalam menulis. Belia menyatakan bahwa

"Banyak diantara kita ingin menjadi penulis, namun hanya sekian persen dari kita yang dapat mewujudkannya"

Kalimat tersebut menyiratkan bahwa dalam menulis, ada kendala atau hambatan yang menghadang. Kendala tersebut ialah

1. sering merasa tidak ada bakat

2. sulit memunculkan ide

3. tidak suka menulis

4. sulit menerima kritik 

5. tidak ada waktu untuk menulis


Kesemua kendala di atas dapat ditanggulangi dengan baik. Narsum mmebrikan tanggapannya di setiap kendala tersebut

1. Soal kendala bakat dijelaskan bahwa menulis tidak hanya berasal dari bakat, tapi kemampuan menulis bisa diasah dengan ketekunan,  berlatih setiap hari dan menjaga komitmen diri

2. Terkait sulit ide, disajikan tip berikut: ide bisa kita dapat dengan memperbanyak diskusi, kolaborasi, dan tentu saja meperbanyak membaca

3. Tidak suka menulis menjadi penyakit yang paling berat dalam menulis, tapi jika kita bisa menemukan alasan yang kuat mengapa kita harus menulis, insyaallah penyakit tidak suka menulis ini akan sembuh

4. Narsum dihambat keempat ini menyatakan bahwa seringkali tulisan kita sulit berkembang menjadi lebih baik, karena kita menutup diri dari saran dan kritik orang lain. Tapi saya yakin bapak ibu guru hebat yang ada disini semuanya sangat berfikiran terbuka dan tidak anti dengan kritikan,karena tulisan panjenengan semua di posting di blog dan bisa diakses oleh semua orang

5. Terkait kendala tidak ada waktu menulis yang diakuinya seringkali didengarnya, sebuah kalimat motivasi dibagikannya: "bukan orang yang punya banyak waktu luang yang dapat menyelesaiakn tulisannya, tapi orang yang dapat meluangkan waktu di tengah kesibukannya".

Lanjut dari solusi pada kendala nomor lima, narsum mengatakan bahwa ada beberapa kegiatan yang perlu dilakukan untuk menjadi penulis yang baik:






Diluar keempat kegiatan yang dianggap perlu tersebut, pengalaman orang lain juga bisa menjadi sumber inspirasi,  maka kita perlu mengembangkan sikap peduli dan empati seingga kita bisa memberikan solusi dan inspirasi dari setiap permasalahan yang ada di sekitar kita. Demikin paparan narsum. Namun demikian, di dalam sesi tanya jawab juga ditemui hal-hal yang menarik juga. Ternyata di kelas belajar gelombang 17 ini, ada seorang siswi yang menjadi peserta, dan mengajukan pertanyaan:

Assalamualaikum, saya Cindy Melinda Putri dari Bekasi. 

Maaf izin bertanya, saya adalah siswa kelas XI di SMAN 2 CIKARANG UTARA. Penulis adalah cita -cita, bagaimana untuk terus bisa bersemangat dalam menulis dan berkarya selain memegang kalimat motivasi, karna kadang semangat itu tiba tiba hilang. Jadi ketika sedang menulis jadi "ah nanti saja."

Umi Rosidah selaku narsum meresponnya:

Waalaikumsalam.... ananda Cindy, saya sungguh berbangga hati ada siswa yang ikut kelas menulis juga. semangat naik dan turun itu biasa,  jika kamu sudah ada digrup ini berarti ananda sudah berada dijalur yang benar. jika ingin tetap semangat dalam menulis salah satunya adalah kita harus tetap bersama orang2 yang produktif, contohnya di grup ini. kalau saya biasanya untuk tetap menjaga motivasi saya biasanya mengikuti event tertentu yang ada kaitannya dengan menulis. karena ada date line maka kita akan termotivsi untuk terus menulis. setelah mengikutinya beberpa kali, lama2 menulis ini akan menjadi karakter kita.

Pertanyaan berikutnya yang juga menarik berasal dari Omjay. "Guru besar" belajar menulis ini bertanya sebagai berikut:

Apa resepnya jadi juara pertama lomba? Apakah bu umi membuat buku dari kursus singkat di Jepang?.

Jawaban dari nara sumber diuraikan "panjang dan lebar sama dengan lega/luas". Narsum menyatakan sebenarnya tidak ada resep khusus, hanya saja untuk perlombaan yang diadakan oleh Kemdikbud karya kita akan dilihat seberapa besar kebermanfaatannya bagi siswa kita itu yg utama, kemudian seberapa mudah karya kita tersebut di duplikasi dan dapat diaplikasi di tempat lain. Terkait buku tentag pengalaman di Jepang adalah onprogress. Narsum mohon do'a kepada Omjay agar segera selesai.

Selanjutnya, closing statement dari Umi Rosidah menjadi "isi dirinya" yang bersemayam dalam jiwa sehingga kegemarannya menulis tetap eksis hingga kini. Beliau berkata:

"GURU MULIA KARNA KARYA", jangan pernah berhenti berkarya dan menginspirasi peserta didik kita , dalam bentuk apapun karya itu jika kita buat  dengan sungguh-sungguh pasti akan menunjukkan jalan menuju kesuksesan.  Selamat Berkarya, salam sehat dan sukses untuk kita semua. 

Dari pelatihan belajar menulis malam ini, soal utama yang tertanam di diri seorang penulis ialah kunci sukses menjadi seorang penulis yang handal. Jika dalam diri penulis tidak ada "slogan" atau sebutlah "ruh positif" yang memecut dan membakar gelora menulisnya, maka tak ayal tak ada karya yang tercipta dengan baiknya. Semua soal tentang menulis bisa dipelajari, dan oleh karenanya tak ada kata "kendala" untuk menjadi seorang penulis handal karena selalu saja hadir solusi-solusi jitu. Tinggal pribadi dan lingkungan yang tepat "mendidiknya". 

Demikian......



Posting Komentar

11 Komentar

  1. Teruslah berkarya selagi muda. Jadilah guru mulia karena karya

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. akhirnya Omjay koment tulisan saya...hehehehhe....terima kasih om...

      Hapus

  3. MassaAlloh Pak Sucipto... .Resumnya kerennnnn profesional. ..menginspirasi.. .. terimakasih banyak

    Etin Jabar

    BalasHapus
  4. Pak Cipto ini moderator andal dan luar biasa gercep. Sembari memimpin acara pun sempat membuat resume. Cepat, lengkap, dan sistematis lagi. Pokoke the best tenan.

    BalasHapus
  5. Ternyata kita ketemu di kolom komentar, haa ha...mantap tulisannya. Lanjut terus berkarya. Salam literasi

    BalasHapus
  6. Bisq-bisanya Pak Cip memandu acara dan menulis resume dengan cepat, mantap

    BalasHapus
  7. Selalu ada yang luar biasa dari artikel2nya. Lengkap, sempurna dan menginspirasi. Semoga tetap semangat dalam berkarya dan berbagi. Very good. Lanjutkan!

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, mari bangun argumen bukan sentimen