Oleh

Sucipto Ardi


Bagi mereka yang dirinya sudah tersadarkan atau mampu meningat dengan baik di masa kecilnya, maka paham dengan tokoh film Rambo. Dalam film tersebut dikisahkan bagaimana veteran Perang Vietnam harus berjibaku dengan kenyataan yang tidak menyenangkan dialaminya. Film ini sebenarnya adalah bukan sekedar usaha membangun mitos bahwa Amerika serikat (AS) menang dalam perang melawan Vietkong, namun lebih kepada bagaimana perang telah menciptakan sosok yang serius sekaligus mematikan. 

Mematikan inilah yang dijumpai tentara AS di Vietnam saat memperjuangakan dominasinya di Asia Tenggara. Ketika itu, antara tahun 1960-70 dunia seakan terbelah menjadi 2 kubu yang sama kuat dan besarnya. Mereka berlomba menjadi yang terkuat sekaligus berpengaruh. Perang fisik dan non fisik, seringkali ada 2 negara AS dan Uni Soviet (US) dibelakangnya sebagai beking-an. Di Vietnam, perang yang juga disebut sebagai Perang Vietnam II, wilayahnya terbagi menjadi 2. Vietnam utara didukung oleh US dan Vietnam Selatan didukung AS. Dalam dua negara adidaya ini, AS memberikan dukungan yang jor-joran kepada Vietnam Selatan. US mengirimkan teknisi perang mereka ke Vietnam Utara, namun berbeda dengan AS dengan mengirimkan tentara regulernya layaknya dialah yang menjadi aktor dilapangan “pemilik” perang tersebut.

Pada tanggal 9 Februari 1965, dibawah titah Presiden Lyndon B Johnson maka AS mengirimkan batalion misil Hawk Korps Marinir ke Vietnam dengan misi utamanya ialah melindungi pangkalan militer AS di Da Nang. Di tanggal tersebut tercatat dalam sejarah untuk kali pertamanya pasukan tempur AS ke Vietnam Selatan. Ini adalah tonggak perdana untuk menjadi tahapan baru keterlibatan AS dalam Perang Vietnam. Kisah sejarah perang AS ini sudah banyak ditulis, bahkan dibuatkan filmya, seperti yang diawal disebut yakni Rambo, ada pula Platoon, dan serial Tour of Duty. Dalam ketiga contoh film itu, tergambarkan jelas bahwa AS melalui tentara regelurnya berperang dengan gerilyawan Vietnam Utara (Vietkong). 

Berdasarkan ini maka sudah jelas bahwa peristiwa yang terjadi pada masa Perang Dingin telah menambahkan pemahaman tentang konsep Perang Dingin itu sendiri. Di buku sejarah pada tingkat SMA dan banyak guru sejarah yang memahaminya bahwa Perang Dingin adalah perang urat saraf, perang persaingan ideologi, perang antara AS dan US namun menggunakan pihak lain, dan pengertian lainnya yang menempatkan kedua adidaya tersebut tidak terjun langsung ke medan perang. Kenyataan sejarah berbicara beda. Terkesan tegas bahwa seakan-akan pada kasus tertentu, Perang Dingin “keluar” dari batasan yang sudah “baku” itu. Begitulah sejarah, sebuah peradaban manusia yang selalu menggoda untuk diperbincangkan di setiap masa. Dari mulai dengan kajian berat berdasarkan analisis data yang seringkali butuh keahlian khusus, maupun perbincangan tak terbatas menariknya selayaknya membaca eksemplar penafsiran sejarah yang tertera di koran, majalah, dan reportase jurnalistik.

Kisah sejarah produk wartawan selalu menarik. Dunia pers seringkali ditemui menjadi mesin daur ulang waktu yang menjadikan sejarah selalu menjadi bahan untuk dipertontonkan. Bahasan yang dibangun selalu dinamis karena dikaitkan dengan kondisi sekarang dengan isu yang berkembang hangat. Terlepas apakah sejarah dijadikan latar, maupun landasan rasional opininya, senyatanya insan pers juga ikut menjadi bagian dari sejarah, termasuk dalam sejarah pers nasional.

Dalam sejarahnya, kiprah perjuangan pers Indonesia memperoleh wadah dan wahana yang berlingkup nasional dengan terbentuknya organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Peristiewa yang berlangsung pada tanggal 9 Februari 1946 ini bukan hanya sebagai tanda hari lahirnya PWI namun juga diperingati sebagai Hari Pers Nasional (HPN). Untuk memperoleh title HPN membutuhkan perjuangan. Melewati masa jabatan Presiden Soekarno dan terselesaikan pada jaman Presiden Suharto maka proses yang panjang ini disempurnakan dengan dikeluarkannya Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 1985 yang menetapkan tanggal 9 Februari sebagai Hari Pers Nasional.

Kehidupan pers dalam sejarah Indonesia, bisa jadi serupa dengan negara lainnya di belahan dunia, terkait erat dengan bagaimana sebuah rezim berkuasa. Di saat awal reformasi, khususnya di jaman Presiden Habibi dan Presiden Abdurrahman Wahid, pers nasional begitu terbukanya, itu juga jika tidak ingin dibilang telanjang. Eksemplar cetakan dan produksi visul di televisi nasional mampu dengan “bebas” mempertontonkan bagaimana tindak kekerasan dan tampilan darah merah diberitakan begitu saja. Dalam perjalanannya akan memparbaiki sebagai hasil adaptasi terhadap rezim penguasa. Di jaman Orde Baru, kisah bebas tersebut sulit untuk ditemukan. Namun, ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjabat sebagi presiden, pers nasional berkembang dan kebebasan terjaga dengan baiknya. Hingga kini masih dijaman reformasi, rasa-rasanya di masa beliaulah, pers nasional terjaga dengan baik, tidak was-was seperti di jaman Orde Baru, atau vulgar layaknya orang telanjang bak di awal reformasi. 

Demikianlah….


Sumber:

https://internasional.kompas.com/read/2018/02/09/11215031/hari-ini-dalam-sejarah-gelombang-pertama-pasukan-as-tiba-di-vietnam?page=all

https://www.tribunnews.com/nasional/2021/02/09/hari-pers-nasional-9-februari-ini-sejarah-hingga-tema-hari-pers-nasional-2021?page=all

https://kumparan.com/berita-hari-ini/sejarah-dan-tema-hari-pers-nasional-2021-yang-diperingati-setiap-9-februari-1v8nyVHfMIX/full