#8 - Snouck Hurgronje dan Aceh

 


Oleh

Sucipto Ardi


Bangsa Belanda memiliki satu professor yang diandalkan terkait pemahamannya tentang Islam dan masyarakat Aceh. Dia adalah Snouck Hurgronje, seorang akademisi yang fasih berbahasa Arab, Melayu-Aceh, dan budaya Aceh. Dibawah kepiawaiannya, berbagai laporan penelitian tentang masyarakat Aceh dibuatnya untuk kepentingan Hindi belanda.  Hingga akhir hayatnya Snouck Hurgronje masih tercatat sebagai penasehat Kementerian Urusan Kolonial di Kerajaan Belanda. 

Lahir tanggal 8 Februari 1857 di Belanda. Gelar professornya di raih pada tahun 1881 setahun sebelumnya menerima gelar doktoralnya dengan disertasi Mekah. Empat tahun kemudian bisa masuk dan tinggal di Mekkah oleh karena hubungan baiknya dengan Gubernur Ottoman di Jeddah. Di Mekkah Snouck Hurgronje mampu mengambil hati para ulama agar dapat membimbingnya dalam mendalami Islam. Masa belajar ini, Ia kemudian menikah dengan perempuan asal Jeddah dan empat tahun kemudian menikah lagi dengan wanita Indonesia (Ciamis) ketika meneliti pendidikan Islam di Bogor (Buitenzorg). Dua tahun kemudian (tahun 1891) masuk ke Aceh dan kondisi saat itu perang sedang berkecamuk antara Aceh dengan Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL) alias Tentara Kerajaan Hindia Belanda. Di aceh, Snouck Hurgronje memakai nama Haji Abdul Ghaffar dan dengan kepiawaiannya, ia mampu menjalin hubungan baik dengan tokoh adat sekaligus dengan para ulama.

Tinggal selama 7 bulan di Aceh lahirlah buku yag dijadikan Kerajaan Beanda di Nusantar sebagai “pedoman penaklukan Aceh” yang berjudul De Atjeher. Buku ini merupakan makalah-makalah penelitiannya yang dijadikan buku. Jumlah karya tulis yang disusun sebanyak 1.400 makalah. Snouck Hurgronje melakukannya dengan baik, ini terbukti bahwa kebuntuan Kerajaan Belanda bertempur dengan kombatan Aceh selama 3 dasawarsa dapat teratasi.

Tahun 1903 Belanda menaklukkan Aceh. Kemudian Snouck Hurgronje pulang kampung ke Belanda bukan karena senang hasil penelitiannya diaplikasikan oleh Kerajaan Belanda, namun karena kecewa berat. Ia menyarankan agar penaklukkan Aceh jangan dengan jalan kekerasan, apalagi pembantaian karena akan meletupkan masalah baru. Rasanya Kerajaan Belanda sudah dapat “kunci cara mengalahkan Aceh” dengan caranya sendiri, dan bukan rekomendasi Snouck Hurgronje. Baginya para kombatan KNIL “sudah melampaui batas”. Terlebih setelah dirinya keluardari Aceh dan kembali ke Belanda.

Pada tanggal 8 Februari 1904 Kerjaan Belanda melakukan ekspedisi Gayo-Alas. Tujuan ekspedisi ini ialah menagkap Cut Nyak Dien yang melakukan gerilya, dan membuat Belanda gerah.  Dengan jumlah pasukan yang besar, logistik yang mumpuni, dan pendukung lainnya sudah cukup kuat kalau ekspedisi kali ini adalah misi total penaklukkan Aceh.

Setelah menelusuri hutan belantara selama 100 hari berikut hantaman peluru geriyawan Aceh, akhirnya kekuatan dibawah pimpinan lapangan  Letnan Kolonel Gotfried Coenraad Ernst van Daalen samapi juga di Gayo. Segera kurir mengirimkan surat ke raja-rajanya agar menandatangani pakta tunduk kepada Kerajaan Belanda. Satupun tidak ada yang meresponnya, malahan rakyatnya tanpa memandang jenis kelamin dan umur, mereka bersiap-siap dibalik pagar tempat batas wilayahnya. Mereka siap berperang dengan kape’ (kafir) dan ini dianggap sebagai perang suci maka mereka berpakaian putih-putih. 

Dilihat dari kekecewaan Snouck Hurgronje, apa yang dilakukan van Daalen bukan hanya sekedar penaklukkan saja, akan tetapi pembantain di setiap wilayah yang tidak tunduk dengan Kerajaan Belanda. Menurut catatan asisten Letkol pemimpin lapangan, yakni J.C.J. Kempees dalam laporan berjudul "De tocht van Overste van Daalen door de Gajo, Alas-en Bataklanden" (1904) dituliskan bahwa ekspedisi Gayo-Alas dipedalaman memakan korban sebanyak 4000 orang. Dari foto-foto yang dijadikan data penguatnya, terlihat bahwa marsose dan komandannya selalu berposes di setiap kampung yang habis ditaklukkan. Dalam foto tersebut mereka berdiri atau menginjak mayat-mayat laki, perempuan, orang tua, hingga anak-anak. Foto ini semacam selebrasi apa yang mereka yakini sebagai sebuah kemenangan perang. 

Ekspedisi tersebut, dari pedalaman Aceh hingga ke Karo wilayah Sumatra Utara sekitar 3 bulanan, dapat disebut sebagai babak terakhir penaklukan Aceh. Target ekspedisi ini tercapai yaitu Cut Nyak Dien tertangkap. Setelah ini tidak ada lagi perang perlawanan rakyat Aceh yag besar, namun selalu ada pertempuran namun dalam skala yang kecil. Setelah Aceh dinyatakan takluk pada tahun 1904, maka serangkaian pembunuhan terhadap orang-orang Belanda oleh rakyat Aceh bukan hanya ketika dalam sergapan gerilya, namun juga ditempat keramaian. Seorang Aceh tiba-tiba menyerang Marsoses Belanda dimanapun ditemukannya, seakan tanpa target dan persiapan matang, ini menunjukkan bahwa nuansa balas dendam begitu menyengat. Inilah yang disebut Belanda sebagai Atjeh Moorden atau "Pembunuhan Aceh." Sejarah menggoreskannya dengan angka bahwa antara tahun 1910 hingga tahun 1920, terdapat 75 kasus dan setelahnya, dari tahun 1920 hingga di tahun 1930, terdapat 51 kasus. Sepertinya gejala ini membuat Marsose dan pegawai Belanda merasa gentar dan ketakutan terutama ketika mereka sedang naik kereta misalnya, atau sedang berada di pusat-pusat keraian. Kenyataan ini membenarkan pendapat Snouck Hurgronje: “Jalan kekerasan menaklukan Aceh akan menuai masalah baru”. 

Dengan demikian, apa yang dapat ditarik dari kisah sejarah tersebut bahwa ilmu itu wajib didahulukan sebelum melakukan tindakan. Jangan menyimpang dari standar yang sudah digariskan karena bisa jadi akan terjadi hal-hal yang diinginkan. Selanjutnya peserta didik yang mengikuti tentang perang Aceh, khususnya di Gayo-Alas ini, seorang guru harus memastikan rasa kebanggan terhadap bangsa sendiri harus dikedepankan. Nilai sejarah berupa memiliki mental pejuang yang kokoh dari rakyat Aceh, patut dipupuk dan disemayamkan pada diri peserta didik. Aceh tetap Indonesia, Aceh selalu menjadi bagian dari NKRI dan kami bangga kepada Aceh. Kegigihannya melawan dan mempertahankan wilayahnya dari penjajah Belanda layak dijadikan percontohan dan tauladan bagi peserta didik di setiap generasi. Bangsa petarung, bangsa pantang menyerah adalah kita, Indonesia. 



Sumber: 

https://tirto.id/sejarah-8-februari-1857-lahirnya-snouck-hurgronje-penakluk-aceh-dgm2

https://tirto.id/ekspedisi-maut-di-gayo-sejarah-belanda-membantai-rakyat-aceh-ciy4



Posting Komentar

5 Komentar

  1. Menurut saya pembahasan ini sangat bagus, di pembahasan ini saya jadi tahu bahwa bangsa Belanda memiliki satu professor yang diandalkan terkait pemahamannya tentang Islam dan masyarakat Aceh. Dia adalah Snouck Hurgronje, seorang akademisi yang fasih berbahasa Arab, Melayu-Aceh, dan budaya Aceh. Dan saya juga tahu tentang sejarah provinsi Aceh.

    BalasHapus
  2. "Ilmu itu wajib didahulukan sebelum melakukan tindakan" pesan yang bagus banget buat ditiru. Bahasan kali ini sangat menambah wawasan tentang keberhasilan Aceh dan kehebatan Cut Nyak Dien.

    BalasHapus
  3. Banyak sekali pesan yang didapat dari tulisan di atas, selain itu saya jadi mengetahui kisah tokoh bernama Snouck Hurgronje, serta kokohnya Aceh dalam mempertahankan wilayahnya. Salut!

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, mari bangun argumen bukan sentimen