#4 - FB & Hari Kanker Dunia



Oleh

Sucipto Ardi


Pernah saya berseloroh di sebuah Grup Menulis bahwa “Tweeter layaknya hutan belantara, Instagram bagai mall, dan Facebook (FB) adalah pasar tradisionl”. Ragam reaksi bermunculan. Ada yang merasa "direndahkan" bahwa stratrat ini menempatkan FB didasar, dan merasa "kampungan" dengan kata pasar tradisional. ada pula yang sependapat dengan saya walaupun kesetujuannya itu jauh berbeda dengan makna dibalik kalimat seloroh tersebut.

Bisa jadi karena kesukaan pada Sosiologi, membuat lapisan yang bertingkat terhadap medsos saat ini, maka tersebutlah sedemikian rupa seperti diatas. Penempatan FB dibawah dengan istilah pasar tradisional adalah bentuk pemuncak akan posisi nyatanya di Indonesia. Layaknya pasar tradisional yang selalu hadir diseluruh wilayah di provinsi Indonesia, demikian pula dengan penggunaan FB yang meluas hingga ke pelosok negeri ini. Dari ketiga macam medsos tersebut pemakaian terbanyak dan menyebar ke seluruh wilayah Indonsia ialah FB.  Dilihat dari tingkat strata sosial, para pengguna FB diisi dari lapisan atas hingga paling bawah. Dari mereka yang tidak bersekolah hingga perguruan tinggi, dari para pedagang eceran-informal hingga saudagar besar-formal ada di FB. Dengan luasnya cakupan para user sekaligus jumlah penggunanya, maka tidak berlebihan jika FB disebut medsos papan atas di Indonesia. Di dunia, FB memuncaki dengan catatan emas sebagai media sosial paling popular. Per kuartal-III di tahun 2019, berkisar 2,4 miliar pengguna yang mengakses Facebook setiap bulannya.

Sebenarnya yang dihasilkan FB itu bukan hanya jumlahnya, akan tetapi hadirnya sebuah kesadaran untuk saling berkomunikasi dan manusia bergerak dengan sendiri. Keikutsertaan manusia adalah point penting dari keberadaan FB. Dengan kata lain adalah bangunan yang amat partisipatif. Partisipatif yang begitu kuatnya menjadi core/intisari dari FB telah meningkatkan saling keterhubungan antar manusia di dunia maya. Ini adalah sebuah kenyataan yang fantastik diawal abad ke-21. Sepertinya ragam medsos setelahnya mengekor dengan core yang dilahirkan oleh FB ini. 

Ketika untuk pertama kalinya diluncurkan, Mark Zuckerberg dan teman sekamarnya bengong dan seakan terpaku didepan layar komputer, menyaksikan antara 1.000 sampai 1.500 rekan mahasiswa lain yang mendaftar ke situs itu dalam 24 jam pertama dilahirkan. Sekejap membuat mata mereka tak berkedip. Peristiwa bersejarah itu berlangsung pada tanggal 4 Februari 2004 dan terus meningkat hingga 17 tahun kemudian FB menjadi perusahaan raksasa. 


Sebagai sebuah jasa, peningkatan FB tersebut sungguh cemerlang, namun jika peningkatan dibidang penyakit adalah kabar buruk. Inilah yang terus terjadi di dunia, khususnya penyakit papan atas yang merenggut nyawa manusia, yakni kanker. Jumlah kematian akibat kanker di seantero dunia akan meningkat menjadi lebih dari 16,3 juta pada tahun 2040. 

Kanker memang mematikan, namun laju perkembangannya dapat dikendalikan dengan pencegahan. Didunia juga di Indonesia usaha untuk meningkatkan kesadaran akan pencegahan kanker telah menjadi tujuan utama. Banyak organisasi kanker dan kesehatan di seluruh dunia, dan Hari Kanker Dunia yang diperingati pada 4 Februari hadir untuk mewakili penegasan kembali disetiap tahunnya betap pentingnya tujuan itu. 

Setiap tahun, berbagai kegiatan diselenggarakan di seluruh belahan dunia. Umumnya menghimpun ragam komunitas, organisasi, dan juga individu yang berada di sekolah, bisnis, rumah sakit, pasar, taman, aula komunitas, tempat ibadah, di jalan-jalan hingga secara online yang berperan sebagai remainder layaknya jam waker bahwa setiap orang mempunyai peran penting guna mengurangi dampak global dari cengkraman kanker. Selayaknya FB, seluruh individu harus memperkuat dan memperluas partisipasi. FB bergerak sudah 17 tahun, dan peringatan Hari Kanker Dunia tahun ini untuk yang ke 21 kali. Semua bergerak, semua berpartisipasi. 

Kedua bahasan kali ini, sekali lagi core/intisarinya ialah keikutsertaan sebuah partisipatif. Point utama ini harus disemayamkan di dalam diri peserta didik sebagai pondasi kecakapan hidup mereka dalam meretas masa depannya. Mereka tidak harus dilepas sendiri, mereka butuh guru untuk melihat lebih jauh arah mereka, setidaknya di dalam kelas dalam sebuah proses pembelajaran. Kini pembelajaran kolaborasi yang kental partisipasi menjadi oksigen di dunia pendidikan. Semoga semua orang semakin partisipatif terhadap semua yang dihadapi sehingga tantangan dan beban dapat dilesaikan dengan berujung kepada kesuksesan.



Sumber:

https://voi.id/memori/30589/4-februari-dalam-sejarah-lahirnya-facebook-di-harvard-oleh-mark-zuckerberg#:~:text=Bagikan%3A,mendaftar%2C%20dan%20itu%20baru%20permulaan.

https://www.wartaekonomi.co.id/read269998/4-februari-momen-pertama-kali-facebook-diluncurkan-dengan-kontroversi?page=2

https://www.worldcancerday.org/sites/default/files/2020-09/WCD21_Posters_A3_Campaign_FA_INDONESIAN_01.pdf

https://www.pikiran-rakyat.com/internasional/pr-011379478/simak-sejarah-dan-tema-hari-kanker-sedunia-4-februari-2021?page=2

https://www.suara.com/news/2021/02/04/071502/mengenal-sejarah-hari-kanker-sedunia-4-februari?page=all



Posting Komentar

5 Komentar

  1. Pembahasan kali ini sangat bagus dan menarik. Saya setuju dengan statement yang menyatakan bahwa “Tweeter layaknya hutan belantara, Instagram bagai mall, dan Facebook (FB) adalah pasar tradisionl”. Karena memang tidak bisa dipungkiri jika nyaris semua kalangan menggunakan FB sebagai media sosial mereka. Juga banyaknya orang yang terkena kanker membuat saya semakin berempati.

    BalasHapus
  2. Memang baiknya memanfaatkan sosial media sebaik-baiknya. Seperti menggalang dana dari para pengguna platform media sosial khususnya Facebook pada saat hari kanker sedunia dan penyuluhan mengenai kanker. Hal ini juga bisa menjadi solusi untuk mengurangi penderita kanker di dunia.

    BalasHapus
  3. Topik yang diangkat sungguh menarik! Mulai dari membahas sosial media, kemudian penyakit kanker, kedua topik dalam satu tulisan di atas memang berbeda, namun Pak Cip dapat menyatukan kedua topik tersebut menjadi satu tema yang sama dengan gaya penulisan yang keren!

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, mari bangun argumen bukan sentimen