Oleh

Sucipto Ardi


Hanya sedikit negara di Asia yang memberikan pandangan baik ketika dijajah oleh Jepang, barangkali Taiwan adalah negara satu-satunya. Di akhir abad ke 19, tepat pada tahun 1895, Dinasti Qing menyerahkan Taiwan kepada pihak Jepang sebagai pelaksanaan Perjanjian Shimonoseki. Perjanjian ini merupakan simbol  bagi berakhirnya perang Cina-Jepang Pertama. Sejak tahun 1895 dan 1945, Taiwan menjadi daerah koloni Jepang. Selama lima puluh tahun dibawah kekuasaan Jepang, Taiwan mengalami banyak perkembangan dibidang infrastruktur dan ekonomi, sehingga standar hidup sebagian besar orang Taiwan juga mengalami peningkatan. Perbaikan di bawah pemerintahan kolonial Jepang ini diyakini banyak pihak berkontribusi terhadap mayoritas persepsi rakyat Taiwan yang relatif menguntungkan Jepang. Kredit positif disematkan untuk Jepang dimata kebanyakan warga Taiwan. 

Setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia II (PD II), Taiwan dikembalikan pihak Sekutu kepada Pemerintahan Nasionalis Cina pimpinan Chian Kai-Shek. Peristiwa di bulan Oktober 1945 ini dilanjutkan dengan menunjuk Chen Yi sebagai gubernur di Taiwan. Penunjukan ini membuat rakyat Taiwan protes dikarenakan pesan Jepang ialah agar Taiwan menentukan nasibnya sendiri dan pemimpinnya berasal dari kepulau Taiwan (Cina Kepulauan/Formosa), dan bukan dari Cina Daratan. Segera setelah Chen Yi sampai di Taiwan, poster-poster bertebaran yang berisikan cercaan dan celaan sudut-sudut kota serta pusat keramaian. 

Rakyat Taiwan umumnya menolak Cina Daratan menjadi pemimpin mereka. Penolakan ini semakin hari semakin membesar, namun tak ada saluran yang tepat untuk mewujudkan harapan mereka. Layaknya api dalam sekam, seperti daun yang telah lama mengering, maka satu pantikan saja bisa membakar seluruh isi gudang.

Sore hari seorang pedagang rokok yang menjajakannya di luar kedai, kepalanya dipopor senjata lantaran pegawai Biro Monopoli Tembakau dan Alkohol melakukan menganggap dagangannya ialah hasil seludupan. Kabar Lin Jiangmay seorang janda beranak dua yang kemudian kepalanya luka dipopor senjata, dengan segera tersebar ke seluruh pelosok. Warga Taiwan berkerumum dan menuntut barang dagangan rokok yang disita segera dikembalikan. Oleh karena desakan massa, salah satu petugas Biro tersebut panik dan melepaskan tembakan. Adalah Chen Wenxi, yang sedang berdiri di antara orang berkerumun, tertembak lalu tewas seketika. Orang ini memanglah korban hari ini, dan semua orang yang ada di tempat kejadin tidak pernah mengira kalau apa yang terjadi akan menimbulkan tragedi di keesokan harinya. 

Pada tanggal 28 Februari, berkumpullah sekitar 2 ribu orang di gedung Biro Monopoli untuk menuntut si penembak agar dieksekusi, dan pimpinan Biro wajib bertanggung jawab dengan cara mengundurkan diri. Mudahya kerumunan ini terjadi juga disebabkan oleh rasa ketidakpuasan, melonjaknya tingkat pengangguran, inflasi, dan korupsi di tubuh pemerintahan Cina Daratan di Taiwan. Insiden tersebut menjadi pemicu yang kemudian menjadikan massa semakin beringas, dan di tempat terpisah dua pegawai Biro yang sedang menjalankan tugasnya dengan memeriksa pedagang, kemudian dipukuli hingga meninggal dunia. Massa kemudia bergerak ke kantor Gubernur dan tuntutan menjadi melebar. Kini massa melayangkan petisi agar mereformasi Biro Monopoli Tembakau dan Alkohol. Tanpa aba-aba, berondongan peluru dari atas gerbang kantor membubarkan kerumunan dan menewaskan beberapa orang.

Penembakan ini semakin membakar kemarahan warga Taiwan terhadap semua warga Cina Daratan: “orangnya di pukuli, dan harta bendanya dibakar”. Meihat kondisi semakin tidak terkendali, kalangan golongan atas Taiwan, usahawan dan pemuka adat lokal berusaha melakukan perundingan mencari jalan kelur bersama gubernur. Hasilnya, kebanyakan dari mereka kemudian ditangkap dan dieksekusi. Kekerasan ini pula ikut serta menjadi bahan bakar bagi terjadinya pemberontakan terbuka yang berlangsung selama beberapa minggu dan mengakibatkan puluhan ribu korban jiwa. Dalam masa itu, tepatnya 7 Maret, bantuan datang dari Cina Daratan. Tentara langsung kokang senjata dan memberondong siapapun yang berada tepat dipandangan mereka. Tentara ini dengan cepatnya segera mengeksekusi sekelompok orang, memerkosa wanita, bahkan memenggal kepala warga Taiwan. Nyaris seluruh elemen masyarakat yang dianggap membangkang kemudian ditangkap,  dipenjarakan atau dieksekusi. Bisa nyatakan bahwa seluruh pulau Taiwan diteror oleh militer dan pemerintah. Orang-orang, terutama para pembangkang, mulai menghilang dan tidak pernah terdengar lagi kabarnya. Kondisi ini diabadikan daam sejarah sebagai “terror putih”. Akhir Maret tercatat ada puluhan ribu warga Taiwan yang terbunuh juga menghilang tanpa jejak. Selama empat decade, masyarakat Taiwan membisu. Namun demikian, kisah itu tidak mati. Di tahun 2004, lebih dari 1 juta warga Taiwan turut berpartipasi dalam rally 228 Hand-in-Hand yang membentuk rangkaian  rantai manusia sepanjang 500 km untuk memperingati insiden atau pembantaian yang berlangsung pada 28 Februari 1947.

Di tanggal yang sama, 28 Februari, Indonesia kelahiran seorang yang nantinya menjadi besar namanya di bidang sastra yang juga dianugrahi pahlawan nasional. Amir Hamzah ialah sosoknya yang memiliki nama sejak lahir adalah Tengkoe Amir Hamzah Pangeran Indra Poetera. Amir Hamzah ialah nama pena selaku penulis satra. 

Setelah belajar di Jawa juga berkarya, Amir kembali ke tanah kelahirannya Langkat, Sumatra Utara, berkarya, bekerja lalu membina rumah tangga. Sebagai bagian dari golongan bangsawan, Amir selalu memiliki saluran untuk dekat dengan peguasa, dalam hal ini Belanda juga Jepang. Tak ayal kondisi ini menguntungkan dirinya sekaligus merugikannya. Setelah Indonesia merdeka, Amir ditunjuk menjadi perwakilan Pemerintah Republik Indonesia di Langkat. Jabatan baru nya ini setara dengan Bupati. Mulai tanggal 3 Maret 1946 Revolusi Sosial di Sumatra Timur di mulai dan pembunuhan secara besar-besaran terhadap keluarga bangsawan yang dianggap feodal dan tidak memihak kepada rakyat. Empat hari kemudian merambah hingga ke Langkat, pihak keluarga istana Kesultanan Langkat banyak yang ditangkap termasuk Sultan dan Amir Hamzah. Rumor bahwa keluarga Amir bekerja sama dengan Belanda adalah biang keladi kenapa kemudian mereka ditangkap oleh Gerakan Revolusi yang digerakkan oleh faksi-faksi PKI (Partai Komunis Indonesia) dan PSI (Pemuda Sosialis Indonesia).  Pada tanggal 20 Maret 1946, Amir bersama 26 tahanan lainnya dieksekusi dan dikuburkan sevara massal dilubang yang oleh para korban gali sebelumnya. Setelah dilimpuhkan oleh tentara regular nasionalis Indonesia (BKR/ABR/TNI) kemudian pemimpin Gerakan Revolusi di Binjai, diintrograsi dan berulang-ulang kali menanyakan: "Dimana Amir Hamzah?".

Revolusi telah memakan anak kandungnya sendiri…..



Sumber

https://tirto.id/insiden-28-februari-di-taiwan-dalam-empat-dekade-kebisuan-cFnv

https://www.merdeka.com/jabar/peristiwa-28-februari-1947-insiden-berdarah-di-taiwan-yang-tewaskan-ribuan-orang-kln.html?page=all

https://id.wikipedia.org/wiki/Amir_Hamzah

https://kumparan.com/potongan-nostalgia/mengenal-amir-hamzah-sastrawan-dan-pahlawan-nasional-dari-tanah-langkat-1uZK7GCRyj8/full