#25 – Pembantaian Masjid Ibrahim



Oleh

Sucipto Ardi


Salah satu wilayah di muka bumi yang selalu berdarah-darah bagi kaum muslimin ialah Palestina. Wilayah yang terdapat tempat suci tiga agama samawi ini diduduki oleh Israel secara bertahap dari tahun 1948, 1967, dan terus meluaskan kekuasaannya hingga kini. Israel sebagai “pemenang” di tanah Kan’an hanya menyisakan dua wilayah berdaulat Palestina di Gaza (berbatasan dengan Mesir) dan Tepi Barat (berbatasan dengan Yordania).

Kondisi pendudukan ini, amat rawan terjadinya gesekan diantara ummat beragama, terutama soal penggunaan tempat ibadah dan waktu pelaksanaan ritual yang berbarengan. Tanggal 25 Februari 1994, kerawanan akan gesekan tersebut berubah menjadi tragedi bersimbah darah. Sholat shubuh adalah waktu kejadiannya yang hingga kini dikenal sebagai Pembantaian Masjid Ibrahim atau Pembantaian Hebron atau Pembantaian Gua Makhpela. Di hari peristiwa berdarah itu bertepatan dengan hari raya Purim Yahudi dan hari raya Ramadan Muslim yang jatuh pada tanggal yang bersamaan.

Di pagi itu, sosok yang bernama Baroch Goldstein yang dikenal sebagai Yahudi ekstrem, dan dibantu pasukan pendudukan Israel berikut segelintir pemukim Yahudi di Kiryat Arba melakukan pembantaian terhadap warga Palestina yang ketika itu sedang melaksanakan shalat Shubuh. Dari laporan para saksi dengan gamblank dinyatakan bahwa ketika pembantaian itu berlangsung, pihak militer Israel menutup rapat-rapat pintu Masjid dengan tujuan mencegah warga untuk menyelematkan diri, dan melarang warga Palestina yang luar Masjid untuk masuk demi menyelamatkan para korban.

Goldstein memberondong muslimin selama 10 menit dan jeda beberapa detik untuk mengisi ulang peluru senapan yang dipegangnya. Pembantaian di Masjid Ibrahim di Gua Makhpela, Hebron, Tepi Barat menyebabkan 50 korban tewas 29 diantaranya gugur didalam masjid dan 125 korban luka-luka. Pembantaian yang begitu brutalnya ini akhirnya dapat terhenti lantaran para jemaah menyerang balik kemudian memukulinya hingga tewas. Dari sumber yang lain, Goldstein dinyatakan tewas bunuh diri setelah membantai kaum muslimin..

Tidak berselang lama dari aksi pembanyaian itu, identitas  si pelaku penembakan brutal ialah seorang warga Israel yang berprofesi sebagai dokter militer Israel. Goldstein ini  lahir New York, Amerika Serikat namun sejak tahun 1983 hijrah ke Israel dan bermukim di wilayah pinggiran kota bernama Permukiman Kiryat. Selain itu, Goldstein merupakan pengikut Meir Kahane, seorang Yahudi dan rabi ekstrimis yang dikenal karena pemikiran anti-Arab dan ultra-nasionalis. Tindakannya di masjid tersebut, diduga kuat kalau  Goldstein terinspirasi dari pemikiran Kahane.

Masjid Ibrahim hingga kini tetap dibuka, namun memperketat pemeriksaan keamanan disetiap pintu masuk masjid dilakukan oleh ottoritas Israel. Masjid ini hanya dibuka 10 hari dalam setahun untuk umat Islam dan Yauhdi.

Demikian adanya.



Sumber

https://tirto.id/subuh-berdarah-di-hebron-jemaah-masjid-ibrahim-diberondong-peluru-gawt

https://republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/17/02/25/olxmuc396-masjid-ibrahimi-saksi-bisu-genosida-warga-palestina-23-tahun-lalu


Posting Komentar

4 Komentar

  1. Penulisannya berhasil membuat saya merasa merinding selama membacanya sekaligus merasakan kengerian yang terjadi di Palestine. Serta dapat menumbuhkan rasa kepedulian dan empati pembaca terhadap apa yang terjadi di Palestine.

    BalasHapus
  2. Palestina negara terjajah sepanjang masa,,namun tetap satu jiwa dengan agama nya,,Allah swt akan memberikn tempat terbaik untuk mereka..

    BalasHapus
  3. Baru kali ini saya mendengar cerita tentang Masjid Ibrahim ini. Menambah pengetahuan sekali, ditambah penulisan artikel yang sangat menarik. Palestina dengan kengerian dan masalah kemanusiaan yang terjadi di sana.

    BalasHapus
  4. Saya sangat menyukai tulisan hari ini karena dapat membuat saya sebagai pembaca dapat merasakan bagaimana rasanya menjadi orang orang yang tinggal di palestina, selain itu juga ini sangat menarik dan juga bermanfaat.

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, mari bangun argumen bukan sentimen