#19 – Iwo Jima dan Komando Pertahanan Udara


Oleh

Sucipto Ardi


Menonton film layar lebar dengan genre sejarah atau berlatar belakang sejarah memang mengasyikkan. Selain seringkali ceritanya seru, penonton dibawa ke masa lalu dalam bentuk audio visual. Film Letters from Iwo Jima yang dirilis tahun 2006 dan sudah beberapa kali ditayangkan saluran televisi nasional Indonesia, adalah salah satu contohnya. Film yang banyak diapresiasi bahkan oleh para kritikus film, menyajikan tontonan yang memukau ala produk Hollywood. Bagaimana film ini dibuka oleh sebuah tim penelitian kini yang dimenelusurinya berdasarkan surat-surat pelaku perang tentara Jepang, lalu dibawa masuk ke medan perang hingga tersajikan detail kondisi sejarah. 

Film tentang kodisi pertahanan pulau Iwo Jima dan tentunya dari sudut pandang militer Jepang, justru menarik karena begitu banyaknya peristiwa sejarah tentang perang akan tetapi Iwo Jima malah dipilih untuk diangkat menjadi karya film. Dari sini, sepertinya dimata produsen film, Iwo Jima memiliki kelebihan atau keistimewaan. Kenyataan sejarah juga berkata demikian. 

Iwo Jima merupakan bagian dari Kepulauan Ogasawara yang dalam perang pasifik menjadi amat penting. Penguasaan pulau vulkanik ini menjadi keharusan tanpa tawar menawar. Hal demikian sudah diperhitungkan dengan baik, sehingga kemenangan di Iwo Jima merupakan langkah strategis bagi Amerika Serikat (AS). Strategi “lompat kodok” dirangkai AS untuk menguasai setiap jengkal pulau-pulau Jepang, lalu mendirikan pertahanan dan loncar ke pulau lain untuk dikuasai. Penguasaan Iwo Jima diperjuangkan guna mendekati pulau-pulau utama di Jepang. Strategi yang matang ini harus dieksekusi dengan kekuatan penuh, tak ayal puluhan ribu tentara AS dikerahkan. 

Pertempuran di Iwo Jima ini adalah salah satu medan perang yang amat mematikan dalam sejarah Perang Dunia II, khususnya di sektor Pasifik. Pertempuran yang begitu dahsyatnya ini, di pihak Jepang mengalami kerugian yang sangat besar. Dengan jumlah sekitar 22.000 tentara yang ditempatkan di Iwo Jima, hanya 216 orang yang hidup. Sementara itu, di pihak AS yang wafat berjumlah  6,821 tentaran serta sekitar 20.000 terluka serius dan parah.

Pertempuran Iwo Jima ini adalah “head to head” jendral, yaitu dipihak Holland Smith (AS) dan Tadamichi Kuribayashi (Jepang). Sebelum diturunkan di Iwo Jima, jendral Jepang ini menyatakan bahwa perang modern sekarang akan banyak tergantung pada produksi industri. Perang dengan AS adalah kesia-siaan belaka karena mereka memiliki industri yang kuat. Kuribayashi seakan mengetahui akhir perang ini, namun tugas yang diembannya dilakukan dengan sebaik mungkin dengan perhitungan yang tepat. Mendapat perlawanan yang begitu hebatnya dalam mengusai Iwo Jima, jenderal AS berkata, “Dari semua lawan kita di Pasifik, Kuribayashi adalah yang paling tiada tanding”. Mulai tanggal 19 Februari ketika tentara AS memulai perang,  Iwo Jiwa baru benar-benar ditaklukkannya setelah melewati hari-hari mengerikan selama lebih dari satu bulan.

Pertahanan yang kuat menjadi kunci utama lamanya perang yang berlangsung di Iwo Jima. Pertahanan negara  ini memiliki Komando Pertahanan Udara Nasional. Luas wilyah Indonesia bukan hanya ditelusuri dari darat dan laut saja, namun udara juga menentukan. Komando ini efektif ketika operasi Trikora tahun 1961-1962. Hingga kini, bisa jadi banyak yang tidak mengetahuinya, bahwa di tanggal 19 Februari diperingati sebagai Hari Komando Pertahanan Udara Nasional.

Berdasarkan kedua kisah sejarah ini, guru dapat memberikan pemaknaan kepada peserta didik, bahwa dalam menjalani kehidupan, apapun profesinya, seyogyanya setiap orang memiliki pertahanan yang kokoh. Salah satu bentuk pertahanan ini adalah kematangan pribadi sehingga nantinya dapat memilah mana yang baik dan mana yang tidak baik. Penentuan sikap terhadap tatantangan yang dihadapi juga merupakan wujud pertahanan diri. 

Demikian. 



Sumber

https://nationalgeographic.grid.id/read/132037831/veteran-perang-amerika-ini-masih-dihantui-perang-ikonik-iwo-jima?page=all

https://id.wikipedia.org/wiki/Tadamichi_Kuribayashi

https://www.merdeka.com/sumut/peristiwa-19-februari-peringati-hari-komando-pertahanan-udara-nasional-indonesia-kln.html?page=all






Posting Komentar

3 Komentar

  1. Materi pembahasan semakin menarik. Iwo Jima dengan pertahanan kuatnya menjadi kunci lamanya perang. Hal ini tentu dapat menjadi pelajaran bagi setiap orang untuk memiliki pertahanan yang kokoh (kematangan pribadi).

    BalasHapus
  2. Pesan dari artikel ini sangat bagus dan dapat tersampaikan dengan baik, mengenai pertahanan yang kokoh dalam diri. Sangat menarik!

    BalasHapus
  3. Materi hari ini sangat menarik ditambah bahasanya mudah dipahami, tulisan hari ini bertema sejarah iwo jima dan komando pertahanan udara nasional dalam menghadapi perang yang waktu itu sedang berlangsung. Tulisan ini juga menambah pengetahuan saya, yang tadinya tidak tahu menjadi tahu .

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, mari bangun argumen bukan sentimen