Oleh

Sucipto Ardi


Tugas wartawan memang mulia untuk memberika kabar apa yang terjadi diluar sana sehingga yang tidak paham akan menemukan jawaban-jawaban. Invasi Amerika Serikat (AS) menyisakan banyak sekali tanda tanya kepada dunia, terlebih rakyat Indonesia yang dibeberapa bagian memiliki kesamaan, terutama soal agama. Sebagai sebuah kesatuan ummat Islam, rasa ingin tahu terbilang tinggi. 

Tanggal 18 Februari di tahun 2005 menjadi moment yang tidak akan bisa dilupakan oleh dua wartawan Indonesia, yaitu Meutya Hafidz dan Budiyanto ketika meliput di Irak. Wartawan yang bertindak sebagai reporter dan kamerawan ini, langsung mendunia setelah disiarkan oleh saluran Associated Press Television News. Gambar keduanya menjadi sorotan karena dalam kondisi di sandera. Dalam video pendek terlihat para penyandera Mujahidin Irak menggunakan penutup kepala sekaligus muka yang lazim ada di Timur Tengah. Salah satu sang penyandera dalam rekaman video menyatakan bahwa: “Kami sedang menyelidiki alasan mereka di negara ini. Kami meminta pemerintah Indonesia untuk mengklarifikasi status mereka dan mengatakan kepada kami alasan mereka berada di negeri ini. Jika tidak jiwa mereka terancam”. 

Dengan sigap, Tim Metro TV tempat bekerja kedua wartawan tersebut langsung menghubungi pihak kepresidenan untuk membicarakannya lebih lanjut terkait permintaan para penyandera tersebut. Gayung bersambut, presiden bertindak. Dimalam istirahatnya, Presiden Susilo Bambang Yudhyono (SBY) dibangunkan ajudannya dan menceritakan kondisi kedua wartawan dan meminta dengan hormat agar presiden memberikan respon. Selepas tengah malam, sekitar pukul 01.00 malam Sabtu melalui dua stasiun televisi berjaringan internasional APTN dan Aljazeera, SBY dengan tampilan berbaju muslim dan berkopiah khas Indonesia memberikan pernyataan yang berisikan konfirmasi kedua wartawan Indonesia tersebut. SBY menjelaskan bahwa kedua wartawan itu sedang menjalankan tugas juranisltiknya dan itu tidak ada hubungannya dengan kepentingan politik yang terjadi di Irak. Oleh karena itu, atas nama pemerinah dan rakyat Indonesia, SBY meminta agar kedua wartawan tersebut dibebaskan terlebih Indonesia tidak mendukung tindakan invasi yang digekal oleh AS di Irak.

Selain itu, dilakukan pula pendekatan kepada mantan Presiden Abdurrahman Wahid, Ketua Majelis Mujahidin Indonesia, dan abu Bakar Ba’asyir. Mereke dimintai bantuan karena luasnya jaringannya di Timur Tengah, termasuk di kalangan mujahidin Irak. Dituturkan Budiyanto setelah sampai di Indonesia, bahwa salah satu penyandra berkata kalau mereka diminta membebaskan wartawan Indonesia oleh ulama-ulama Sunni, namun tetap menunggu respon dari presiden. Tak lama setelahnya, satu diantaranya berteriak: “your presiden…your presdien…your presiden…”. Di tanggal 21 publik dunia, khususnya Indonesia bersuka cita.  Kabar menggembirakan datang dari Ramadi, Irak. Akhirnya, dua wartawan Metro TV tersebut dibebaskan.

Rasa bebas juga dirasakan masyarakat suku Dayak dan Madura kini dari trauma atas tragedi di tanggal 18 Februari di tahun 2001. Sejaka berakhirnya konflik tersebut hingga 20 tahun mendatang, keduanya membangun saling rasa percaya, menghilangkan kisah pahit yang keduanya juga mengalami guna terbebasa dari belenggu masa lalu yang traumatis. Kekerasan antar etnis di Sampit bukanlah kisah yang dapat diceritakab melalui kaca mata kuda, namun harus dirajut dengan sudut pandang multikausal.

Kekerasan yang lebih tepat disebut pembantaian telah mengusir lebih dari 100.000 orang Madura dari Sampit dengan menyisakan ribuan rumah dibakar, dan ratusan kendaraan roda 2, 4, dan 3 dirusak. Soal nyawa yang melayang, jumlah yang diyakini kebenarannya merentang antara 500-1.500 jiwa dimana sebagain besar adalah orang Madura. Di media cetak, televidi, dan terutama internet mempertontonkan bagaimana pembantaian terjadi, dan gamar-gambar keala manusia terlepas dari tubuhnya. 

Pembantaian ini, sebenarnya bukan pecah karena hal sepele seperi salah paham, namun lebih jauh lagi. Mulai dari karakter kesukuan, konflik masa lalu yang menyisakan dendam, kebiasaan adat pendatang yang berbeda dan seringkali bertentangan dengan budaya suku asli, kesuksesan kaum pendatang, dan dominasi politis dapat diketengahkan yang mematangkan kondisi kekerasan juga pembantaian itu pecah, dan membesar. Diibarakan sebagai daun kering yang semakin garing, maka percikan api kecilpun segera dengan cepat menyulut kebakaran yang lebih besar, sehingga bukan hanya daun yang terbakar, malahan satu kebun habis dilalap api. 

Peristiwa kecil bisa jadi pemantik, namun aktor intelektual bisa lebih canggih menjadikan pemantik itu sebagai jalur api yang dengan cepat menjadikannya menjadi kerusuhan juga pembantaian di Sampit. Dihadapan aparat polisi, Fedlik dan Lewis mengakui perbuatannya yang telah merencanakan kerusuhan Sampit. Profesi keduanya, sehari-hari bekerja di Bappeda (Fedlik), dan seorang pegawai Dinas Kehutanan (Lewis). Mereka menyatakan merasa tidak puas dikarenakan semua pejabat yang dilantik beragama Islam. Persaingan perebutan posisi kepala daerah dari tingkat bawah hingga Gubernur, seringkali dijadikan bahan bakar untuk terjadinya kerusuhan yang didalangi aktor intelektual. 

Seperti diketahui, Fedlik dan Lewis mengakui telah merencanakan kerusuhan Sampit. Beberapa hari sebelum melakukan aksi penyerangan pada dini hari 18 Februari, warga Dayak dan etnis non-Madura lainnya ternyata sudah sebanyak 11 kali mengadakan pertemuan-pertemuan. Mereka juga sudah mempersiapkan uang Rp15 juta untuk membayar provokator. Bahkan berdasarkan keterangan dari Kakorserse Polri Irjen Pol Engkesman Hillep, sebelum melakukan penyerangan, mereka menyempatkan waktu mengadakan upacara adat untuk menyerang suku Madura. Terkuak sudah, aktor intelektual “bermain” dalam kerusuhan yangberujung kepada pembantaian di Sampit.

Dari peristiwa ini, guru dapat menyampaikan kepada peserta didik bahwa konflik yang melibatkan orang banyak, termasuk identitas kesukuan harus diselesaikan hingga ke akarnya, bangun komunikasi yang tepat diantara pihak yang berseteru. Jika tidak tuntas, maka benih-benih dendam bisa dengan segera dipantik oleh “orang jahat” seperti aktor intelektual. Tentunya, ketimpangan yang tinggi perekonomian menempati tangga penting di masyarakat, oleh karenanya upaya pemberdayaan masyarakat harus jadikan program terpadu dan berkelanjutan. Untuk menapaki usaha nyata, maka di sekolah dapat dimulai dengan bagaimana belajar untuk saling menghormati dan menghargai perbedaa yang ada, juga berkolaborasi dengan mereka yang tidak sama latarnya. Pembagian kelompok kerja dan proyek yang libatkan peserta didik dengan latar beragam dapat diterapkan. Semoga kisah penyandraan di Irak dan pembantaian di Sampit menjadi pelajaran berharga untuk kita semuanya.




Sumber

https://bosscha.id/2020/02/18/sejarah-18-februari-dua-orang-wartawan-indonesia-disandera-di-irak/

http://ahmadtaufik-ahmadtaufik.blogspot.com/2007/05/mutia-hafidz-dan-budiyanto.html

https://tirto.id/provokasi-elit-berujung-pembantaian-sampit-cEWZ

https://www.liputan6.com/news/read/4485567/2-dasawarsa-kerusuhan-sampit-konflik-antar-etnis-yang-berujung-tragedi