#15 - Hengkang dari Afganistan dan Menentang Jakarta



Oleh

Sucipto Ardi


Ketika Vietcong memenangkan perang melawan Amerika Serikat (AS) pada tahun 1975 di seluruh bagian negara Vietnam, Unisoviet (US) menjadi negara yang bertepuk tangan dengan riuhnya. Hal ini seperti diketahui karena US berada satu barisan dengan Vietcong. US dalam perang Vietnam mengirimkan konsultan dan perwira untuk melatih sekaligus bekerjasama dalam menghalau AS. Tercatat dalam sejarah, di Vietnam inilah AS mengalami kekalahan yang telak, dan pulang kampung dalam muka tertunduk malu.

Kondisi perang tersebut adalah gambaran lazim seperti apa bentuk dari Perang Dingin yang mempertontonkan perselisihan ideologi demi supremasi di dunia internasional. Setelah terjadi di Vietnam, US menceburkan diri dengan cara menginvasi Afganistan dimalam natal tahun 1979, genap 4 tahun kemenangan mereka di Vietnam. Jika di Vietnam yang menjadi sorotan ialah AS, kini Afganistan adalah US. Keterlibatan US, tak tanggung tanggung, ditulis dalam sejarah sebagai Perang Soviet-Afganistan. Sebelum US melakukan aksi invasi, mereka mengetahui bahwa Afghanistan ketika itu sedang dikuasai oleh kombatan mujahidin yang berpihak kepada AS. Serupa dengan situasi di Vietnam, maka Afghanistan terbelah dua tentunya karena perbedaan ideologi lalu terseret ke dalam Perang Dingin.

Presiden Afganistan ketika itu ialah Hafizullah Amin yang mengetahui invasi US, maka pusat pemerintahan dipindah ke Istana Tajbek. Malam natal di Kabul Ibu Kota Afganistan dihiasai langit dengan penerjun payung US dan barisan Angkatan Darat US. Dua hari kemudian, tanggal 27 Desember 1979, sejumlah 700 pasukan US memakai seragam Afganistan, termasuk anggota yang tergabung ke dalam OSNAZ dan pasukan khusus GRU Spetsnaz dari Grup Alpha dan Grup Zenith, guna ambil alih pemerintah, militer dan bangunan-bangunan di Kabul, termasuk target utama invasi gelombang kedua ini, yaitu Istana Tajbeg. Komunikasi terputus lalu komando militer Afganistan lumpuh. Apa yang terjadi kemudian sudah di duga. Melalui siaran Radio Kabul, US menyatakan sudah membebaskan dari kepemimpinan Amin, dan nasib presiden Afganista itu "telah dihukum mati oleh pengadilan karena kejahatannya". US dengan ideologi komunisnya berkuasa di Afganistan melalui bonekanya bernama Babrak Karmal sebagai kepala pemerintahan. Karmal ini kemudian menjalankan pemerintahan Marxist-Lenin dengan mesin politiknya bernama Partai Demokrasi Rakyat Afganistan. Partai inilah yang “mengundang” US masuk ke Afganistan. 

Setelah penguasaan melalui invasi tersebut, pasukan US tak memiliki kemampuan untuk berkuasa di luar Kabul, karena sekitar 80% wilayah di luar Ibu kota, khususnya daerah pedesaan tidak dapat dikendalikan dengan baik oleh pihak pemerintah. Misi US yang awalnya bertujuan untuk mempertahankan kota dan instalasi-instalasinya, kemudian dimodifikasi serja dikembangkan menjadi sebuah misi penting untuk menghancurkan mujahidin yang anti-komunis. US sedari awal menganggap pihak Mujahidin sebagi lawan yang lemah karena mereka dipandang sebagai milisi (sipil bersenjata) dan tidak terkoordinir dengan baik terlebih medan perang Afganistan begitu luas lagi berlembah juga bergunung-gunung.  US mengira bahwa misi di Afganisyan ini akan berlangsung dengan mudah. Namun pada kenyataannya, pasukan beruang putih mengalami kesulitan yang teramat dalam mengalahkan pasukan mujahidin yang dibeking Amerika Serikat, dibiayai oleh Arab Saudi, dan mendapat bantuan logistik dari Pakistan.

Selama misi sembilan tahun, US sebenarnya hanya berkutat kepada usahanya dalam mempertahankan pemerintahan komunis di Afganistan dengan menghadapi mujahidin yang ingin menggulingkan pemerintahan. Bagi bala tentara US, setiap tahun berganti situasi semakin bertambah parah mengingat pihak mujahidin tidak pernah  ada kata berhenti melawan tentaranya Gorbacev. Kondisi demikian membuat para tentara merah kemdusian merasa kelelahan dan sekarat sampai akhir. Hasilnya di akhir tahun 1988, US mulai menarik pasukannya secara bertahap. Tepat tanggal 15 Februari 1989 diumumkan bahwa seluruh tentara US keluar dari tanah Afganistan. 

Di Indonesia pada tanggal tersebut, 15 Februari tahun 1958 dibentuklah kabinet tandingan dengan nama Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Gerakan ini kemudian mendapatkan dukungan dari Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah. Tepat tanggal 17 Februari 1958, wilayah tersebut menyatakan dengan resmi mendukung PRRI yang aksinya dikenal dengan istilah Permesta. Oleh karenanya, dalam buku-buku sejarah ditulis PRRI-Permesta. Mereka yang termasuk dalam gerakan tersebut ialah orang yang selama hidupnya berperang dan berjuang untuk kemerdekaan Indonesia, sekaligus tidak sepakat terhadap kedekatan komunis dengan Soekarno.

Kabinet PRRI yang dibentuk susunannya terdiri dari Syafruddin Prawiranegara sebagai Perdana Menteri, Maludin Simbolon sebagai Menteri Luar Negeri, Burhanuddin Harahap sebagai Menteri Pertahanan dan Menteri Kehakiman, Sumitro Joyohadikusimo sebagai Menteri Perhubungan dan Pelayaran, Mohd Syafei sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan (PP & K) dan Menteri Kesehatan. JF Warouw sebagai Menteri Perhubungan, S Sarumpait sebagai Menteri Pertanian dan Perburuan, Mohthar Lintang sebagai Menteri Agama, M Saleh Lahade sebagai Menteri Penerangan dan A Gani Usman sebagai Menteri Sosial. 

Berbagai tuntutan dikabulkan oleh Kabinet Djuanda, kecuali satu yakni pembubaran PKI. Setelah dua tahun berlangsung, PRRI kemudian membentuk Pemerintahan Federal yang disebut Republik Persatuan Indonesia (RPI). RPI diproklamirkan pada tanggal 8 Februari 1960 di Bonjol dan yang diangkat menjadi presidennya ialah Syafruddin Prawiranegara. Kabinet Djuanda yang berkuasa ketika itu, mengeluarkan perintah resmi untuk menangkap Syafruddin Prawiranegara, Burhanuddin Harahap dan Sumitro Joyohadikusomo. Dengan segera situasi menjadi panas, dan bantuan berupa logistik perang berhamburan dibeberapa tempat di Padang dan Bukit Tinggi. Pihak AS mengirimkannya di malam hari dan menjatuhkannya lewat pesawat, dan ada pula pasokan melalui perairan via kapal-kapal selam. Logistik perang ini adalah semacam modal awal untuk mempersenjatai pasukan PRRI yang umumnya terdiri dari mahasiswa dan pelajar. 

Gerakan yang berkembang pesat di tanah Minang ini  diawali dari reuni Divisi Banteng di Padang pada tanggal 20 hingga 25 November 1956. Reuni yang diisi oleh mantan kombatan juga tentara aktif kemudian berkembang dengan pesat, bukan hanya membahas isu kemiskinan sebagai pejuang kemerdekaan Indonesia yang tersisihkan/disia-siakan, namun melanjut kepada kondisi ketidakadilan antara daerah dengan pusat yang begitu timpang. Gerakan yang diarsiteki oleh Letnan Kolonel Ahmad Husein lalu melangkah lebih jauh lagi dengan merebut kekuasaan Gubernur Ruslan Muljohardjo dan menerapkan otonomi luas karena menilai pemerintahan Soekarno yang cenderung sentralis, sehingga pembangunan di daerah menjadi terabaikan. Mulailah dijalankan kebijakan untuk berhenti mengirimkan hasil daerah ke pusat kemudian melangsungkan perdagangan barter dengan pihak luar negeri tanpa mengikuti prosedur yang ditetapkan Indonesia. PRRI jalan sendiri dengan caranya untuk membangun daerah. 

Uraian sejarah ini apabila diperas menjadi satu kalimat, maka dapat dirangkai begini: “gerakan ini (PRRI-Permesta) menginginkan pembangunan merata tanpa komunis”. Dengan demikian, apa yang mereka lakukan adalah menentang kebijakan ekonomi yang tidak berpihak, tidak menguntungkan, dan tidak merata kepada daerah. Mereka juga menentang kedekatan PKI dalam lingkaran Soekarno. Namun apa mau dikata, ketika dibentuknya kabinet tandingan dan suasana Perang Dingin dimana AS mendukung secara militer kepada PRRI, itu semua dianggap Kabinet Djuanda dan kendali dibawah Presiden Soekarno sebagai sebuah pemberontakan. Aksi militer digelar, pertengahan tahun 1961 PRRI-Permesta sudah selesai. Tokoh-tokohnya banyak yang diampuni oleh Soekarno, namun tidak untuk partainya. Syafrudin Prawiranegara yang merupakan petinggi Partai Masyumi yang terlibat PRRI disinyalir dijadikan penyebab atau alasan kemudian Masyumi dibubarkan.

Demikian adanya.






Sumber:

https://nationalgeographic.grid.id/read/131635967/lelah-berperang-ini-detik-detik-soviet-mundur-dari-afghanistan-30-tahun-lalu?page=all

https://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Soviet%E2%80%93Afganistan

https://www.liputan6.com/news/read/4482145/15-februari-1958-berdirinya-prri-gerakan-pemberontakan-menuntut-otonomi-daerah

https://id.wikipedia.org/wiki/Pemerintahan_Revolusioner_Republik_Indonesia








Posting Komentar

11 Komentar

  1. Mantap Rt. sejarah PRRI di daerah minang

    BalasHapus
    Balasan
    1. sejarah yang sayang dilupakan Pak Yu.Oya alm. bapak saya dulu adalah tentara pelajar PRRI, jadi rada ada kesan tersendiri oleh karena alm.menceritakan secara detail apa yang terjadi.....

      Hapus
  2. Kali ini pembahasannya sangat bagus dan inofatif, bahasanya juga mudah dipahami, dan ceritanya juga mendetail serta menambah wawasan saya tentang sejarah.

    BalasHapus
  3. Informatif banget pak. Saya baru tahu tentang eksistensi organisasi PRRI di Indonesia.

    BalasHapus
  4. Sangat menambah wawasan! Penulisannya tidak membuat bosan, membuat saya ingin terus lanjut membaca.

    BalasHapus
  5. Literasi edukatif, inovatif dan kreatif...konflik dalam negara yang baru berdiri

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, mari bangun argumen bukan sentimen