Oleh

Sucipto Ardi


Mereka yang besar di tahun 90-an dan gemar nonton film Barat di bioskop atau televisi, rasanya kenal dengan film The Godfather. Di tahun 1990 sekuel ke III terbit setelah 26 tahun seri ke-2 dan pertama di tahun 1972. Film yang meraih banyak penghargaan ini bercerita tentang kehidupan geng mafia di tahun 1920-an di Amerika Serikat (AS). Imigran Italia dari daerah Sisilia membangun keluarga besar sekaligus bisnis haramnya yang menjadi fokus dalam film ini, terlebih sutradara mampu secara detail menghidupkan suasana kehidupan di tahun menjelang krisis ekonomi dunia. Intrik politik, sikut sana sikut sini, pembunuhan terorganisisr dan tentunya persaingan antar geng menghiasi film yang kembali tayang di streaming Netfilx di bulan Mei 2020. Di dunia maya, penayangan ini menjadi viral, terutama bagi para pecinta film. Masa pandemid yang mendera, The Godfather jadi pilihan yang menjanjikan dengan alur cerita yang sebenarnya adalah drama dan bumbu-bumbu mafia yang seringkali terlihat kejam.

Apa yang dijabarkan tersebut tak lain adalah film yang seringkali dibalut dengan ragam rupa pemanis agar laris manis laku terjual dipasaran. Film dengan judul The Godfather ini diangkat dari novel berjudul serupa yang ditulis Amerika-Italia Mario Puzo. Sekilas terlihat ini adalah sebuah fiksi, namun jika dilihat lehih serius melalui filmnya, ini adalah sebuah kenyataan sejarah di tahun 1920-an di AS, tepatnya di Chicago.

AS ketika itu jelas beda dengan hari ini. Saat itu dikenal dalam sejarah dengan sebutan Prohibition Era. Tahun 1920-an, semua usia dilarang mengkonsumsi minuman keras atau minuman beralkohol dan tentunya dilarang peredarannya. Asumsi yang berkembang kuat di parlemen AS bahwa alkohol hanya bisa menimbulkan keributan. Sementara itu, warga AS memiliki kegemaran akan benda haram tersebut sehingga permintaan sangat tinggi. Dampak rasional yang timbul ialah hadir pasar-pasar gelap yang menjanjikan secara finansial. Ketika itu minuman keras yang digemari ialah Whisky dan keuntungan yang diperoleh amat menggiurkan. Kondisi demikian yang membuat “para pemain”, dalam hal ini ialah gangster, kemudian berani mengambil resiko. Jika mereka menang mengusai jalur perdagangan atau peredaran, selain “mandi uang” maka gengsi mereka di dunia gangster bercokol di stratra tertinggi.

Inilah yang terjadi antara dua geng besar di Chicago, AS. Di satu pihak ada Moran, dan di pihak lain ialah Capone. Keduanya saling bersaing juga berseteru tajam. Konflik bersenjata juga bersimbah darah tak lain dan tak bukan karena rebutan jalur perdagangan minuman keras di bagian utara, North Side Chicago. Nyawa diantara kedua kubu tersebut “saling jual-beli”, ketika ada kesempatan yang tepat maka mereka langsung menghabisi nyawa satu sama lain. “Perang Gengster” ini begitu mengerikan terlebih aksinya di depan umum dan di keramaian.

Puncak perang tersebut terjadi di tanggal 14 Februari 1929 Pukul 10.30 pagi. Di markas Moran yang berlokasi di North Clark Street, datanglah empat orang berseragam polisi yang langsung melakukan penggeledahan terhadap tujuh anak buah Moran yang berada di sana. Ketujuh orang yang tanpa senjata disuruh menghadap ke dinding, dan empat orang berseragam polisi menarik pelatuk lalu memberondong ketujuh orang tersebut. Enam diantaranya tewas di tempat, dan seorang lagi meninggal satu jam kemudian di rumah sakit. Keempat eksekutor berseragam polisi diduga kuat adalah anak buah Capone, namun hingga kini tak dapat dibuktikan dimeja pengadilan. Valentine yang umumnya identik dengan bunga mawar, coklat, penuh rasa cinta, dan candle light dinner, di tahun tersebut tidak ada dan berganti dengan peristiwa pembantaian berdarah.


Peristiwa serupa juga terjadi 6 bulan lebih 3 hari sebelum Indonesia merdeka. Adalah Shodancho Soeprijadi yang mengubah Valentine Day dalam sejarah menjadi hari yang dikenal sebagai Hari PETA, hari dimana pemberontakan tentara PETA dilakukan terhadap kezaliman pendudukan Jepang. Beliau merasa prihatin atas penderitaan rakyat Indonesia, khususnya di Blitar Jawa Timur. Bagaimana tidak?, ketika itu Kekaisaran Jepang melakukan kebijakan begitu brutalnya, sebut saja kerja paksa (romusha), perampasan hasil pertanian, dan perlakuan rasial. Salah satu contoh perlakuan rasis Jepang ditimpakan kepada tentara PETA yang juga merupakan hasil bentukan Jepang. Berdasarkan hal inilah, Soeprijadi kemudian mengkonsolidasikan pasukannya untuk memberontak melawan Tentara Kekaisaran Jepang.

Bersama dengan kawan-kawannya yang berstatus komandan regu juga komandan pleton mulai melakukan rapat di dalam kamar asrama pada bulan Agusrtus 1944, Desember 1944, dan Januari 1945. Rencana pemberontakan tercium Jepang, nama Soeprijad-lahi yang disebut-sebut sebagai otak perencananya. Segera di tanggal 11 Februari 1945 tersebut, beliau melarikan diri. tiga hari kemudian, tepat dini hari, 14 Februari 1945, Soeprijadi muncul diasrama. Rencana dijalankan, dan Pemberontakan berkobar. 

Dengan demikian, Valentine Day tidak selamanya indah. Sejarah yang diuraikan malah mengisahkan sebaliknya: Valentine Berdarah dan Memberontak. 



Sumber:

https://tirto.id/kisah-pembantaian-berdarah-di-hari-valentine-dg1n

https://news.okezone.com/read/2013/02/14/414/761898/valentine-berdarah-di-tahun-1929

https://tirto.id/supriyadi-memberontak-di-hari-valentine-ci2N

https://id.wikipedia.org/wiki/Pemberontakan_PETA_Blitar