#12 –Sloban Milosevic dan Imlek 2021

 


Oleh

Sucipto Ardi


Yugoslavia merupakan negara yang ada dalam panggung sejarah hingga benar-benar hilang namanya pada tahun 2003. Negara yang berbentuk federasi ini memiliki 6 negara bagian yang terdiri dari Bosnia-Herzegovina, Kroasia, Makedonia, Montenegro, Serbia, dan Slovenia. Negara bagian, kecuali Serbia dan Montenegro, memilih merdeka dengan referendum di awal tahun 1990-an. Serbia dan Montenegro masih memepertahankan Negara Yogoslavia hingga tahun 2003. Yugoslavia yang berarti (bangsa) Slavia Selatan, secara geografik berada di sebelah Tenggara Eropa. Negara berhaluan komunis ini memiliki dua putra terbaik Balkan, yakni Josef Broz Tito dan Slobodan Milosevic. Presiden Tito tercatat dalam tinta emas sejarah dunia karena meretas Gerakan Non Blok bersama Soekarno. Selain itu menjadi Presiden negara Federasi Yugoslavia dari tahun 1943-1980 ketika ruh berpisah dengan tubuhnya. Sementara itu, Slobodan Milosevic menjadi Presiden Negara Bagian Serbia dari tahun 1989-1997, dan dilanjut menjabat sebagai Presiden Federasi Yugoslavia tahun 1997-2000. 

Ketika bubarnya Unisoviet diikuti dengan pecahnya negara-negara setelit untuk memilih jalan sendiri pisah dari paham komunisme sekaligus menjadi negara merdeka dan berdaulat, Milosevic menghadapi “api dalam sekam” yang selama ini ditanggulangi dengan tangan besi Presiden Federasi Yugoslavia. Sebenarnya benih gesekan etnis dan agama sudah semakin kentara setelah Tito wafat, khususnya diakhir tahun 1980 ketika krisis ekonomi terjadi. Di awal tahun 1990-an, gesekan itu berubah menjadi perang hebat dan berdarah-darah. 

Selama 40-an tahun dibawah pengaruh negara federasi, Serbia bisa dibilang suku bangsa (etnik) yang paling dominan atau berkuasa. Dibidang kepemimpinan, mereka yang terkuat, dari segi jumlah mereka mayoritas sekaligus populasinya menyebar nyaris di seluruh 6 negara bagian. Kondisi superior Serbia ini membuat mereka merasa harus menyatu dalam segmen etnik, maka dengan sendirinya romantika Negara Federasi Yugoslavia masih diharapakannnya. Serbia adalah Yugoslavia dan ketika perang maka logistic tempurnya, dari tentara hingga tank ialah milik Negara Federasi Yugoslavia.

Begitulah kondisi ketika negara bagian menentukan nasibnya sendiri melalui referendum di awal tahun 1990-an, rakyat di negara bagian yang beretnik Serbia memboikot hingga angkat senjata menentang negara baru. Etnik Serbia merasa terancam dengan hadirnya negara baru dimana mereka berada. Tidak terima dengan hasil referendum, mereka protes hingga meminta bantuan ke Negara Bagian Serbia yuang ketika itu Presidennya ialah Milosevic. Disinilah letak intervensi. Di setiap negara yang baru merdeka, tentara Serbia dengan kekuatan militer menginvasi negara yang baru merdeka dengan dalih membantu etnis Serbia yang merasa terancam. Hasilnya adalah pembunuhan, pembantain, bahkan banyak pihak menyebutnya sebagai genosida. 

Dibawah kendali Milosevic, tank-tank perang dikirim ke perbatasan Slovenia hingga menyulut perang. Di Kroasia konflik bersenjata meletup antara Kroasia dengan Etnik Serbia berikut bantuan dari Yugoslavia. Data menunjukkan ada sekitar 10.00 orang tewas dengan hancur leburnya bangunan kota Kroasia. Gencatan senjata yang diprakarsai PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) menghentikan kehancuran juga pembunuhan terencana pada Januari 1992.

Segera setelah Bosnia-Herzegovina merdeka pada Maret 1992, Milosevic membiayai pemberontakan Serbia-Bosnia. Pembersihan etnis berencana oleh pihak Serbia-Bosnia menewaskan 200.000 jiwa. Kesepakatan damai baru menjadi kenyataan 3 tahun kemudian di amerika Serikat, tepatnya di Dayton, Ohio. Kondisi serupa juga terjadi di Kosovo. Etnik Serbia yang sudah lam tinggal duinegar baru tersebut, tidak mengakui hasil referendum dan mengabgkat senjata dan tentunya soal perang didukung oleh Milosevic dengan mengirimkan tentarareguler Yugoslavia. Perang Kosovo berkobar berapi-api. Pada saat itu dibulan Mei 1999 Milosevic didakwa oleh Pengadilan Kriminal Internasional dengan tuduhan kasus kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Kosovo. Tidak hanya sampai disini, Milosevic juga mendapatkan tuduhan tambahan, yaitu melanggar hukum atau perilaku perang, serta melanggar Konvensi Jenewa di Kroasia dan Bosnia serta praktik genosida di Bosnia.

Setelah Milosevic lengser dari pucuk pimpinan selaku Presiden Negara Federasi Yugoslavia di tahun 2000, maka tahun berikutnya digelandang ke sel tahanan PBB yang letaknya di negara Bosnia-Herzegovina. Selanjutnya Milosevic diterbangkan ke Belanda. 

Pengadilan perdana dimulai di Den Haag, terjadi persis di tanggal hari ini, yaitu 12 Februari. Sejak awal pengadilan internasional ini digelar pada tahun 2002, pembelaan yang dilakukan Milosevic berlarut-arut. Oleh karena waktu yang terbilang lama, ternyata sebelum jatuh vonis, Milosevic sudah wafat terlebih dahulu. Tahun 2006, sosok yang digelari oleh media sebagai "Tukang Jagal dari Balkan" ditemukan meninggal dunia di dalam selnya pada pusat tahanan pengadilan penjahat perang PBB di Den Haag. Dalam keterangan resmi, tubuhnya ditemukan sekitar pukul 10 pagi hari Sabtu dan tampaknya sudah meninggal selama beberapa jam.

19 tahun kemudian di tanggal yang sama, pada belahan dunia lainnya, yaitu di Indonesia, perayaan tahun baru Cina (Imlek) secara terbuka dimuka umum digelar. Jum’at, 12 Februari 2021 menjadi perayaan Imlek ke-18 kali yang dilakukan secara bebas tanpa kekangan apapun. Masa lalu yang redup di jaman Orde Baru sudah berlalu, kini kehidupan masyarakat Cina atau Etnis Tiongkok atau Warga Keturunan memiliki standar baru yang diakui undang-undang. Kini mereka mampu bernafas lega, multikultural dan egaliteraian terus di galakkan di republik ini.

Masyarakat Cina di Indonesia paham betul bagaimana pejalanan mereka di Indonesia. Kebebasan hari ini tidak lepas dari kebijakan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Rasa terima kasih dan penghormatannya, di tempat mereka beribadah, yaitu Klenteng terpampang foto Gusdur, bahkan ada yang khusus membuatkan patungnya. 

Demikianlah…




Sumber:

https://id.wikipedia.org/wiki/Slobodan_Milo%C5%A1evi%C4%87#:~:text=Pada%2030%20Januari%202002%2C%20Milo%C5%A1evi%C4%87,mengakui%20keabsahan%20yurisdiksi%20pengadilan%20itu.

https://www.viva.co.id/arsip/389532-12-2-2002-pengadilan-tukang-jagal-dari-balkan?page=all&utm_medium=all-page



Posting Komentar

5 Komentar

  1. Menurut saya tema kali ini sangat bagus, menarik dan update yaitu tentang sejarah Slobodan Milosevic yang pernah menjadi Presiden Negara Bagian Serbia dari tahun 1989-1997, dan dilanjut menjabat sebagai Presiden Federasi Yugoslavia tahun 1997-2000. Juga tentang berlangsungnya imlek ke 18 kali nya di tahun 2021 ini.

    BalasHapus
  2. Update kali ini benar-benar menarik perhatian saya tentang Presiden Tito yang tercatat dalam tinta emas sejarah dunia karena meretas Gerakan Non Blok bersama pak Soekarno.

    BalasHapus
  3. Wah sangat apik tulisannya secara singkat isi kesimpulan keduanya, Nazma dan Gusdur melawan perlakuan diskriminasi. Keduanya adalah “pendekar” bagi mereka yang tertindas, dan terpinggirkan.

    BalasHapus
  4. Dari artikel di atas saya jadi mengetahui tentang negara Yugoslovia dan sejarahnya, serta tokoh yang terlibat di dalamnya, selain itu saya juga jadi menyadari, bahwa perayaan imlek yang dapat dirayakan secara terbuka di Indonesia saat ini, dulunya juga memiliki sejarah yang kelam sebelum sampai di titik ini.

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, mari bangun argumen bukan sentimen