#10 – Mongol di Baghdad dan Jepang di Banjarmasin


Oleh

Sucipto Ardi


Terdapat dua kerajaan yang memiliki keunggulan di pertengahan abad ke-13. Pertama ialah kerajaan dari keturunan Genghis Khan, yakni Mongol, dan yang kedua ialah Kekhalifahan Baghdad. Mongol adalah kerajaan terluas no.1 dalam sejarah manusia, dan Baghdad ialah kota makmur yang begitu menghargai ilmu. 

Di tahun 1258 Masehi (M), Hulagu Khan sedang dalam usahanya memperluas kekuasaan menuju terus kearah barat. Hulagu membariskan pasukan sejumlah 120.0000 personil menuju Baghdad, sebuah Kekhalifahan yang sudah lama dalam keadaan damai sentosa. Di Baghdad tersiar dalam sejarah bahwa penduduknya amat jarang yang miskin, bahkan ketika mereka ingin menunaikan kewajiban membrikan hartanya kepada si miskin, penduduk Abbasiyah ini harus ke luar tembok Baghdad untuk menemukan “si yang berhak”. 

Kemakmuran, kedamaian, dan berkembangnya keilmuan di Baghdad sebagai kota utama kekhalifahan Abssiyah, amat dikena dunia ketika itul. Berbagai ilmu agama dan  dunia, atau mereka yang ingin menimba ilmu, maka Baghdad adalah kiblatnya. Kondisi ini menjadi salah satu faktor utama yang membuat mereka tidak siap untuk berperang, karena sudah lama dalam kehidupan damai. Ini terbukti ketika pasukan-pasukan mereka tak mampu menahan gempuran dari Mongol jauh di luar tembok Baghdad, padahal “pasukan penunggang kuda kecil nan begis” itu tidak dalam kekuatan penuh. Mongol yang sudah mempersiapkan invasi semakin percaya diri.

Mendekati wilayah kota Baghdad ketika peperangan-perangan tak mampu dimenangkan kaum muslimin ketika itu, Hulagu mengirimkan surat yang berisikan tentang tawaran damai tidak ada kerusakan apapun jika Khalifah Al Muhtassin Raja ke-37 Dinasti Abbasiyah menyerah. Hulagu menawarkan agar Baghdad menjadi subordinat (negara sekutu-bawahan) Mongol dan akan membantunya menghancurkan syiah Islamiyah di Persia. Al Muhtassin menolak, Hulagu berang dan bersumpah akan menghancurkan kota modern Baghdad ketika itu. Kota Baghdad semakin dikepung.

Akhir Januari 1258 M, pasukan mongol dengan peralatn perang beratnya melancarkan serangan. Satu persatu tembok dinding kota jebol. Tanggal 5 Februari sebagian besar tembok kota berhasil diruntuhkan. Mongol tidak masuk juga, mereka memilih untuk bertempur di luar benteng agar lelbih leluasa membuat formasi perang. Dalam keadaan putus asa, Al Muhtassin mengirim utusan untuk negosiasi. Berharap ada jawaban bagus dari Hulagu Khan, alih-alih sang kurir dieksekusi. Hulagu tidak membuak kesmpatan tawaran yang kedua. Usaha dari pihak Baghdad dilakukan lagi dengan menghadapnya 3.000 bangsawan untuk berdamai kepada Hulagu. Nasib sama dengan kurui khalifah, semua bangsawan tersebut dieksekusi mati. Negosiasi ditutup Mongol. Gempuran terus dilakukan, Baghdad kini tanpa tembok penahan serangan lagi. 

Tanggal 10 Februari 1258 M, Khalifah Al Muhtassin beserta iring-iringan keluarga dan abdi keluar kota Baghdad dan menyerah kepada Hulagu Khan. Langkah ini diikuti oleh ribuah pasukannya yang sudah dilucuti perlengkapan perangnya. Seluruh pasukan, abdi, beserta keluarganya dibantai di depan mata khalifah. Hanya ada satu anak yang dibiarkan hiduop dan segera di bawa ke negara Mongol di dataran Cina kini. 

“King did not kill a King” yang telah melembaga diseluruh dunia, tetap dilakukan Hulagu Khan. Mongol juga meyakini, kalau raja yang ditaklukkan tidak boleh ditumpahkan darahnya dan mengenai bumi. Jika ini terjadi maka Mongol akan mendapatkan kesialan yang luar biasa. Tak kalah akal, Khalifah tetap dibunuh dengan cara digulung-gulung dengan karpet istananya lalu diinjak-injak oleh kuda hingga meninggal dunia. 

Setelah menyerah dan habisnya golongan istana dan tentara negara (kerajaan), segera ribuan pasukan Mongol masuk ke dalam benteng dan melakukan pembersihan yang sangat brutal, mereka membantai hampir seluruh penduduk kota tanpa pandang bulu. Hanya beberapa orang dari kelompok Kristen Nestorian yang dapat menghirup udara bebas. Ini merupakan perintah Hulagu karena sang ibu adalah seorang Nestorian. Selain manusia, maka istana, perpustakaan, masjid, gereja, lembaga pendidikan tak luput dari usaha penghancuran. Sejarah mencatat tidak ada penunggang kuda kecil nan beringas sekaligus sehebat Mongol yang mampu membangun kemaharajaan terluas sepanjang sejarah manusia dengan meninggalkan puing-puing kehancuran dibelakang mereka. Baghda seakan menjadi kota mati, mayat bergelimpangan tanpa prosesi pemakaman yang manusiawi. Tenda petinggi Mongol akhirnya menjauh dari tembok Baghdad yang hancur karena bau mayat yang amat menyengat.

Kisah sejarah memilukan runtuhnya Khalifah Dinasti Abbasiyah memberikan pengetahuan bahwa ketika penguasa sudah mampu menciptakan wilayah kekuasaannya makmur, damai, dan stabil secara ekonomi dan politik, maka kerajaan/negara itu dalam keadaan lemah terhadap rongrongan pihak luar. Hal ini sepertinya juga terjadi pada Kerajaan Belanda di Indonesia yang dikenal sebagai Pemerintah Hindia Belanda. 

Ketika Jepang melakukan serbuan ke Borneo/Kalimantan di akhir Desember 1941, pihak Belanda hanya bisa berharap kepada sejumlah milisi seperti landwacht (sejenis organisasi pertahanan sipil/Hansip), stadswacht (Hansip untuk kota), Lucht Beseherming Dienst (LBD, Dinas Bahaya Udara), dan Algemene Vernielings Corps (AVC). AVC inilah yang berperan dalam melakukan teknik bumi hangus ketika Jepang secara bertahap namun cepat menduduki sekitaran Banjarmasin. Mereka, Jepang, bagaikan kilat mampu menduduki beberapa tempat seperti Moeara Oeja, Bongkang, Tandjoeng, Amoentai, Barabai, Kandangan dan Rantaoe.

Memasuki Februari 1942, untuk menahan laju Jepang, maka AVC mulai melakukan membakar sarana vital tepat dibelakang mereka sebelum kabur menjauh dari tekanan AD (angkatan Darat) Dai Nippon. Banjarmasin menjadi fokus Jepang di Kalimantan karena salah satu alasan kuatnya ialah sebagai titik terdekat untuk invasi ke Jawa dari sebelah Timur. Dengan strategi “serangan penjepit” dari darat dan laut, akhirnya lapangan udara yang dituju: Martapura dapat dikuasai Jepang tanpa perlawanan berarti dari Belanda pada 10 Februari. Dengan demikian Battle of Banjarmasin yang terjadi sejak 10 Januari 1942, usai sudah.




Sumber:

https://id.wikipedia.org/wiki/Pengepungan_Baghdad_(1258)

https://tirto.id/serbuan-pasukan-mongol-menghancurkan-kekhalifahan-abbasiyah-exvF

https://id.wikipedia.org/wiki/Pertempuran_Balikpapan_(1942)

https://translate.google.com/translate?u=https://en.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Banjarmasin&hl=id&sl=en&tl=id&client=srp&prev=search


Posting Komentar

6 Komentar

  1. Serangan penjepit....
    Saya pikir apa, ternyata serrangan dari darat dan udara.

    Semakin sejarah nih.!!!

    BalasHapus
  2. Saya sangat tertarik dengan tema artikel ini karena menurut saya ini pilihan tema yang bagus dan menarik, saya juga jadi tahu bahwa ada dua kerajaan yang memiliki keunggulan di pertengahan abad ke-13. Pertama ialah kerajaan dari keturunan Genghis Khan, yakni Mongol, dan yang kedua ialah Kekhalifahan Baghdad. Mongol adalah kerajaan terluas no.1 dalam sejarah manusia, dan Baghdad ialah kota makmur yang begitu menghargai ilmu.

    BalasHapus
  3. Baca cerita tentang kehebatan Mongol di atas saya jadi ingat tentang Mongol yang telah dimanfaatkan dendamnya untuk membantu Raden Wijaya (raja kerajaan Majapahit) dalam usahanya (Raden Wijaya) membunuh Jayaketwang (raja kerajaan Kediri). Hal yang menurut saya menarik adalah tentara Mongol yang hebat itu malah terusir dari pulau Jawa oleh Raden Wijaya yang sebelumnya merupakan sekutu baginya.

    BalasHapus
  4. Topik dalam artikel kali ini begitu menarik, saya juga setuju dengan kalimat yang mengatakan “ketika penguasa sudah mampu menciptakan kemakmuran dan kestabilan, maka negara itu dalam keadaan lemah terhadap rongrongan dari luar”, dan hal itu memang benar adanya.

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, mari bangun argumen bukan sentimen