Oleh

Sucipto Ardi


Di Selatan Jakarta minggu pagi adalah waktu yang ditunggu-tunggu. Saat kami kecil macam permainan yang paling digemari ialah bermain gundu atau lazim dikenal sebagai kelereng. Oleh karena begitu mengasyikkan maka kami bersepakat akan melanjutkannya sore hari, namun kami sadar kalau minggu sore adalah waktu mengaji dan mustahil untuk meninggalkannya. Untuk menyatakan kemustahilan, ketika itu kami sering berseloroh  “nanti nunggu lebaran Cina”. Lebaran atau dapat diartikan sebagai hari besar libur agama, hanya dikenal untuk agama Islam, Kristen, Katholik, Hindu, dan Budha. Memang demikianlah bagi kami yang hidup di medio tahun 1980-an. Cina dan hal-hal yang terkait dengannya secara publik nyaris kami tidak tahu, apalagi memahaminya.

Keadaan real yang saya alami tersebut berbanding terbalik dengan kondisi kini. Indonesia sudah berbeda, sejarah sudah berubah. Kisah sejarah Indonesia di jaman Soekarno lalu Suharto, tidak menempatkan Cina sebagai elemen masyarakat yang seharusnya diperlakukan sama. Salah satu alasannya selalu politis yang basis kekuatannya ialah pada pengetahuan sejarah. Bagaimana Cina diyakini oleh rezim masa lalu ikut serta dalam prahara kelam sejarah kelabu bangsa ini pada pemberontakan komunis yang kemudian menghasilkan keharusan hal-hal yang berbau Cina untuk ditutup rapat-rapat.

Kehidupan masyarakat Cina di Indonesia diawasi dengan keluarnya Inpres No 14/1967 tentang larangan agama, kepercayaan, dan adat istiadat China, proses naturalisasi. Proses yang dalam Sosiologi dikenal dengan rumus asimilasi (pembauran) menjadikan identitas Cina di masyarakat meng-“Indonesia”. Nama mereka menggunakan nama yang umum dipakai oleh orang Indonesia, menggunakan Bahasa Indonesia, dan lainnya sebagainya. Tidak cukup sampai di sini, yang berfokus kepada larangan “pemunculan ke-Cina-annya di pubik”, dampak stereotype orang-orang terdahulu menjadi perlakuan berbeda bagi “warga keturunan (Cina) ini. Terlepas karena mereka ulet dalam berusaha ekonomi lalu sukses meninggi, ketidaksukaan bahkan kebencian orang Indonesia terhadap Cina seakan bebas melanggeng kemana-mana. 

Dapat dinyatakan, puncaknya terjadi ketika pecahnya reformasi 1998. Korban berjatuhan dari warga Cina baik jiwa dan harta, terutama di kota-kota besar di Indonesia Barat, juga di Timur. Walaupun banyak versi yang bermunculan namun fakta pembakaran miliki warga Cina disertai exodusnya mereka ke luar negeri cukup menguatkan bahwa mereka dipihak yang amat merugi. Tak berselang setelahnya, angin surga berhembus ke pihak mereka. Dibawah pemerintahan Abdurrahman Wahid yang dikenal dengan sebutan Gus Dur, tepatnya pada tanggal 17 Januari 2000 diterbitkanlah Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 6 Tahun 2000. Inpres tersebut isinya ialah mencabut Inpres No 14/1967 yang dibuat Soeharto tentang agama, kepercayaan, dan adat istiadat Cina. Setelah keluarnya inpres itu, masyarakat Tionghoa kembali dapat merayakan tahun baru Imlek diruang publik. Setelah puluhan tahun, akhirnya warga Cina ini dapat merayakan Imlek untuk pertama kalinya di tanggal 1 Februari tahun 2003. Bagi mereka, warga Cina/warga keturunana/warga Tionghoa, Gus Dur adalah “pahlawan”. Diskriminasi yang selama puluhan tahun dialami, kini sudah usai.


Di belahan dunia lainnya, masalah diskriminasi bukanlah tanpa tantangan. Kuncinya: “memang harus dilawan soal diskriminasi ini”. Secantik Gusdur dalam melawan diskriminasi, dijantung Kota New York di daerah rawan, yakni Bronx, pergerakan perlawanan anti dikriminasi juga dilancarkan. Seorang wanita muda bernama Nazma Khan adalah korban: ''Saya sendiri ketika masih sekolah sering diejek, dihina. (Ada yang) mengatakan bahwa saya ini ninja atau batman. Sejak peristiwa 9/11, penyakit Islamphoia menggejala dengan cepatnya, bahkan di berbagai belahan dunia perempuan muslim yang memakai hijab sering mengalami diskriminasi. Yupz, She fight for hijab!.

Berbeda dengan Gusdur, Nazma tidak memiliki kekuatan politis apapun, namun dunia kini jauh berbeda. Media dapat menentukan jalannya dunia. Ketika usaha melawan diskriminasi ini, Nazma melakukannya dengan membuat petisi dan mengimbau para perempuan di seluruh dunia untuk mengenal apa itu hijab. Acara seremonial tidak ada, apalagi sebuah sekretariatan yang umum bagi sebuah gerakan. Wanita keturunan Bangladesh itu hanya membuat petisi yang diterjemahkan ke dalam 23 bahasa di dunia, dan Indonesia adalah salah satunya. Gerakan bantuan teknologi medsos yang begitu luas, maka gerakan ini mengglobal dan berdampak. Meluasnya penggunaan hijab kemudian melahirkan gagasan untuk menyelenggarakan World Hijab Day atau Hari Hijab Sedunia. Gagasan itu merupakan prakarsa Nazma Khan di New York, Amerika Serikat pada 1 Februari 2013. Moment itu sebagai simbol dimulainya perlawanan terhadap diskriminasi. 

Kini, hijab semakin mendunia, bahkan Hari Hijab Sedunia dirayakan lebih dari 140 negara yang kebanyakan dengan penduduk negara non-muslim mayoritas. Kondisi ini sebenarnya guna mempromosikan sebuah pemahanan yang lebih baik, bukan hanya soal hijab tetapi juga seperti apa kehidupan muslim. Membangun kesepahaman adalah pilar dibalik perlawanan terhadap diskriminasi.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keduanya, Nazma dan Gusdur melawan perlakuan diskriminasi. Keduanya adalah “pendekar”  bagi mereka yang tertindas, dan terpinggirkan. Tanggal 1 Februari mejadi tanggal kramat sebagai pengingat bahwa tindakan diksriminasi pasti mendapat penentangan, dan akan kalah pada akhirnya. 


Sumber: 

https://www.farah.id/read/2020/02/01/2388/ini-dia-muslimah-pencetus-gerakan-hari-hijab-sedunia

https://www.kompas.com/tren/read/2020/01/23/191500665/sejarah-imlek-di-indonesia-dari-zaman-jepang-orde-baru-sampai-gus-dur?page=all

https://fajar.co.id/2020/06/04/bantah-rizal-ramli-politisi-pkb-gus-dur-tak-pernah-mengundurkan-diri-tapi-ada-konspirasi/

https://kumparan.com/kumparanstyle/nazma-khan-perempuan-inspiratif-pencetus-hari-hijab-sedunia