Delapan tahun lima bulanan lalu saya membuat tulisan tentang apa yang terjadi di jaman Orde Baru yang begitu fenomenal. Uraian yang saya buat merupakan hasil pantauan dari acara berbobot yang isinya daging semua, yakni Mata Najwa (MN). Berbeda dengan hari ini, dahulu MN bercokol di Metro TV sebuah saluran televisi swasta nasional yang menjadi salah satu sumber saya dalam memperluas pengetahuan. Kisah yang sudah berlalu itu, rasanya masih layak dimunculkan kembali sebagai pelajaran bagi generasi sekarang dan nanti. 

Di akhir bulan Agustus 2012, Mata Najwa membahas rangkaian peristiwa penghilangan nyawa yang lazim dikenal Petrus (Penembak Misterius). Fenomena ini berlaku pada awal hingga pertengahan tahun 1980-an. Beberapa tokoh di undang untuk di wawancarai oleh Najwa. Berdasarkan dari acara tersebut saya mencatat ada 12 point penting :

1. Penghilangan nyawa yang dikenal dengan nama Petrus di Jakarta adalah rencana yang bukan tiba-tiba. Petrus digelar setelah keberhasilan operasi serupa dari pembersihan preman yang sukses di daerah Jawa Tengah. Ini semacam usaha adopsi tindakan. 

2. Pihak pemerintah bersikap setuju dalam tindak penghilangan nyawa preman ala Petrus.

3. Petrus dilakukan oleh sebab dianggap perlu dan tepat terutama karena masyarakat umum tidak merasa keberatan.

4. Fenomena Petrus (Penembakan Misterius) secara otomatis segera melahirkan idiom lanjutan, seperti Matius (Mayat Misterius) dan Hilarius (Hilang Misterius).

5. Dalam operasinya, si korban tidak selalu tepat sasaran (baca: harusnya preman). Ada kasus ditemukan bahwa Matius merupakan Guru Ngaji, atau ada pula orang yang menolak tanahnya dibeli oleh kelompok tertentu.

6. Modusnya umum Petrus adalah sebagai berikut: menjemput di rumah target atau di pinggir jalan  dibawa pergi  dieksekusi di perjalanan atau di tempat tujuan. Ada juga yang sempat diinapkan di Kodim.

7. Modus tindak eksekusi berupa sebuah penganiayaan, dilempar ke jurang yang amat dalam, atau pada umumnya dengan cara ditembak di dahi depan, dahi kiri, dahi kanan, melalui mulut, atau leher.

8. Modus pelumpuhan yang dilakukan dengan cara diikat kedua ibu jari, atau diikat lehernya. Simpul yang digunakan dan biasanya masih tertata rapi pada mayat adalah bukan simpul yang banyak dikenal oleh kalangan awam sipil, akan tetapi sebuah simpul paten “clove hitch” yang dibuat oleh orang terlatih. 

9. Mayat Petrus biasanya diselipkan uang pecahan terbesar ketika itu: Rp.20.000 untuk biaya pemakaman. Desa atau wilayah yang kedapatan “Bandeng” ini maka “berkewajiban” menguburkannya.

10. Pelaku tindak Petrus adalah dari kalangan militer (ABRI: TNI, Polri meng-amin-i).

11. Para pelaku Petrus jelas telah melanggar HAM dan siap dibawa ke pengadilan.

12. Dengan demikian, Petrus adalah sebuah usaha terencana dan tertata rapi dilakukan oleh orang terlatih. Petrus, para pelaku dilapangan dan aktor intelektualnya layak dijatuhi hukuman yang tepat, terlebih sudah masuk dalam kategori melanggar HAM. 

Demikian setidaknya terdapat 11 poin penting terkait Petrus. Di kelas dan nyaris disetiap angkatan ada saja yang bertanya soal Petrus ini. Saya selalu merasa geram dan miris ketika menjelaskan kepada peserta didik. Namun demikian, saya harus jujur bahwa itulah bagian dari sejarah bangsa ini, bangsa yang selalu saya dan semoga kita banggakan, yakni Indonesia. 

Semoga, setelah memahami kisah Petrus ini, bangsa kita janganlah terjerembab dalam lubang yang sama. Petrus atau penghilangan nyawa secara paksa dalam bentuk-bentuk kreatif lainnya adalah tidak dibenarkan, apalagi diperbolehkan, baik itu sekarang atau masa-masa depan di Indonesia. Inilah pentingnya belajar sejarah: yang terpenting bukan hanya bagaimana belajar sejarah, melainkan bagaimana belajar dari sejarah. Yuk, belajar dari sejarah untuk hidup lebih cerah. 

Acara MN ini sepertinya satu frekuensi dengan uraian di atas. Saya meyakini bahwa acara yang informatif dan mencerdaskan ini, ingin menggugah hati juga pikiran seluruh anak bangsa agar kita memiliki kesadaran sejarah dan kewaspadaan untuk kehidupan di masa kini dan masa depan.

Seperti halnya tayangan MN yang kini sudah pindah ke saluran Tv lainnya, di tahun 2012 Najwa menutup acaranya dengan untaian kata-kata mutiara. Untuk edisi Berangus ala Petrus, berikut kata-kata cantiknya:


Karena dalih kejahatan, ada pembunuhan tanpa pengadilan. 

Daftar preman dan gali, diberangus dalam rantai target operasi. 

Penghilangan orang secara paksa, disertai hilangnya nyawa. 

Sasaran dipilih secara simbolis, orang bertato dan residivis. 

Pameran kebengisan, dipakai membungkam kejahatan. 

Preman yang tak mau loyal, digebah seolah bandit nakal. 

Penciptaan rasa aman, tegak dengan hukum yang mengerikan.

Ditemukan cukup bukti, kejahatan HAM yang pasti. Ketika negara telah merestui, pembunuhan massal yang keji.


…dan diakhiri sebuah lagu dari Creed – One Last Breath…