#pelatihanbelajarmenulis G-17 P-5: Mr. Bams Sang Penggiat Literasi Bandung




Malam Kamis, 13 Januari 2021, membentang mulai pukul 19.00 WIB hingga 21.30 WIB, saya menikmati sebuah kelas menulis PGRI. Belajar menulis kali ini menyediakan paparan yang menurut saya adalah "wah, keren pematerinya". Adalah Mr.Bams dari Bandung yang berkesempatan menjadi narasumbernya. Serentetan pencapaian yang beliau raih layaklah beliau menjadi sumber inspiratif dari kelas yang berisikan guru-guru dari ujung Sumatra hingga ujung Papua.

Gerakan literasi bagi saya menjadi ruh seorang Mr.Bams. Karir yang dibangunnya erat dengan budaya literasi. Saya lebih senang menyebut beliau sebagai penggiat literasi. Pikiran dan aksinya mengarah ke sana, dari urus blog, mempercantik konten youtube hingga aktifis masyarakat sebagai Ketua RW. Sekali lagi, cakrawala literasi selalu menyertainya.

Saya selain kagum dengan pencapaiannya, atau lazim disebut prestasi, juga berikut alam pikirannya ketika menjawab banyak tanya yang muncul dari peserta menulis. Kekaguman saya tidak berhenti sampai disini karena alam pikirannya merupakan pantulan dari karya nyatanya dalam meretas jalan untuk sebuah kata: literasi.

Sebanyak 16 jawaban dari tanya peserta sebenarnya adalah bagaimana Mr. Bams "hidup bersama literasi". Beliau membenahi dirinya mulai dari yang kecil dengan membaca, menulis per kalimat, membuat taman baca di halaman rumahnya, hingga dalam proses yang berliku, berbagai pencapaian tergapai. Pengalamannya ini, sepertinya menjadi "kompas" dalam membangun budaya literasi di sekolah tempat beliau mengabdi. 

Langkah awal, tandasnya ialah dengan memaksa siswa untuk membaca. Dengan rutin setiap hari mengelilingi 24 kelas untuk memantau siapa-siapa saja yang membaca dan dilakukannya sukarela tanpa dibayar, bukanlah peristiwa biasa. Cukup 15 menit sebelum masuk jam belajar, menuliskan apa yang dibaca, memberikan point bagi yang membaca adalah langkah jitu untuk membangkitkan juga stabilkan siswa dalam dunia literasi. Reward digelar pada akhir semester dengan pemberian piagam 1, 2, dan 3. Pencatatan yang detail dalam buku yang tertata rapi menjadi dasar kekuatan penentuan siapa yang layak sebagai "pemenang literasi" didunia siswa. Dengan tim 3 orang, Mr.Bams berjibaku untuk laku literasi.

Berbeda dengan tempat saya mengabdi, di sekolah Mr.Bams bahan bacaan didasarkan kesukaan dan kebutuhan siswa. Siswa akan auto pilot, mereka akan mencari sendiri. Tujuannya sederhana, yaitu menjaga semangat ketertarikan dan ketidak-keterkekangan agar siswa nyaman dalam kondisi membaca/literasi ini. Sekali lagi: jitu ! itu sesumbar saya. Layak di-ATM-kan. 

Sebagai penutup saya ingin menyatakan bahwa keuletan, kekuatan mental, dan tetap dijalurnya menjadi modal utama kenapa kemudian, Mr. Bams sukses menjadi penggiat literasi. Salam hormat untuknya dari saya yang butuh inspirasi.


Posting Komentar

1 Komentar

  1. MasyaAllah, tulisan yang benar-benar luar biasa. semangat berkarya, semangat menginspirasi

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, mari bangun argumen bukan sentimen