Diskusi Jum’at sore itu begitu menarik. Diakhir tahun, tepatnya pada tanggal 4 Desember 2020, sang pemantik, Pak Andhika Restu, benar-benar memercikkan api untuk kemudian membakar ingatan dan analisis untuk membahas Pearl Harbour. Guru yang langganan mendapatkan predikat guru terbaik, mengawali diskusi History Club SMAN 32 Jakarta dengan menyorot pada "peristiwa pagi hari tanggal 7 Desember 1941". Diskusi kali ini membawa kepada tanya: bagaimana Jepang kemudian memilih masuk dalam Perang Dunia II (PD 2) dengan menyerang Pearl Harbour, bagaimana reaksi Amerika Serikat, apa dampaknya bagi imperialisme di Asia Tenggara, dan tak lupa dibahas tentang Kamikaze.

Dalam club ini, kebebasan berpendapat yang egaliter dijunjung tinggi, canda tawa tetap hiasi di setiap diskusi, baik itu tatap muka online, ataupun via WA Group. Kak Tia, dan juga Kak Daffa yang menyempatkan waktu di sela-sela kesibukan kuliahnya bertindak sebagai moderator, turut serta berpendapat tantang Jepang, dan kebebasan dalam melihat diskusi, mereka turut memperkaya diskusi tentang bahasannya terkait Shogun, dan kepercayaan (agama) orang Jepang, yaitu Shinto.

Semua peserta diskusi sepertinya sepakat, bahwa Jepang terlibat dalam PD 2 disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain beban populasi manusia yang tinggi sedangkan kondisi alam tidak mendukung, dan ideologi-ideologi yang mendorong secara mantap untuk mereka bergerak, merangsek, meyerang wilayah-rilayah di Asia Tenggara khususnya yang sedang dikuasai kekuatan Eropa yang ketika itu melemah karena lelah dalam perang di Eropa. Kondisi ini diawali dan “disempurnakan” oleh Yamamoto sang arsitek perang jitu untuk “menyerang tak menduduki” pangkalan militer Amerika Serikat di Pasifik, yakni Pearl Harbour. Dalam banyak buku sejarah dinyatakan bahwa Amerika Serikat, pemerintah dan rakyatnya, mengetahui bahwa mereka akan berperang dengan Jepang. Namun mereka tidak tahu, dan terkaget-kaget ketika serangan tersebut menyasar ke pelabuhan militer mereka di Hawaii. Mereka semuanya geram, terlebih pihak militer Amerika Serikat. Hal ini disebabkan oleh tindakan Jepang yang dinilai telah melanggar hukum perang internasional. Jepang mengirimkan “pesan serang Amerika serikat” sekitar satu jam setelah hancurkan Pearl Harbour. Dalam cuplikan akhir film Tora Tora Tora tahun 1971, Yamamoto sang petinggi militer Jepang, menyatakan bahwa menghancurkan Pearl Harbour : “justru membangunkan raksasa tidur”. Yamamoto sepertinya paham benar seperti apa Amerika Serikat itu dan bagaimana besarnya kekuatan mereka. 


Setelah hancurkan pelabuhan terbesar Amerika Serikat di Pasifik, maka sudah tidak ada halangan besar untuk kuasai negara-negara Asia Tenggara-Pasifik. Tidak kurang dari 6 bulan, “saudara tua ala Jepang”, berhasil berkuasa gantikan bangsa Eropa. Disambutnya Jepang oleh rakyak kebanyakan wilayah mantan jajahan bangsa Eropa, terutama oleh Indonesia salah satunya disebabkan sejak tahun 1930-an propaganda Jepang terus mengudara di radio-radio pergerakan nasional di Asia Tenggara khususnya. Propaganda ini terbilang kuat, bagus, dan tentunya membawa “angin segar” sebuah pengharapan nyata akan terlepasnya penjajahan bangsa Eropa sesegera mungkin. Namun, tidak lebih 1 tahun, dalam pertempuran Midway tengah tahun 1942, semua kemudian berbalik arah. Yamamoto yang meyangka akan mendapat keberhasilan seperti di Pearl Harbour, malah harus pulang dengan kekalahan besar. Setelah itu, “neraka hijau” Guandalcanal, semakin membuat beliau patah arang: “Jepang kalah teknologi dan tak mampu dalam waktu cepat mengejar kecanggihan Amerika Serikat”. Keunggulan pesawat Zero, telah tersaingi Amerika Serikat yang dengan cepat memodifikasi dengan luncurkan armada udara yang baru juga jauh lebih jitu, tukik !…dan, setelah 2 bom atom itu jatuh di pulau Jepang, sang kaisar yang dianggap suci, akhirnya menyatakan diri : “Menyerah Tanpa Syarat kepada Sekutu”.

Sang pemantik, Pak Andhika Restu, memang menyimpan sebuah alasan atau penyebab, kenapa dalam waktu relatif cepat, Jepang secara bertahap dan meyakinkan ke dalam jurang kekalahan. Pak Sucipto Ardi, salah satu guru sejarah SMAN 32 Jakarta, yang turut serta diskusi sore itu, mendapat kesempatan bicara. Apa yang disimpan pemantik, kemudian ditebak lalu dijelaskan. Kekalahan Jepang tersebut dikarenakan keberhasilan pihak Amerika Serikat dalam memecahkan kode rahasia militer Jepang. Dalam film Midway (2019) dibagian awalnya tergambarkan bagaimana kode “AF” untuk Kepulauan Midway mampu diketahui dan armada Jepang kemudian jadi sasaran empuk Amerika Serikat. Tidak ingin kecolongan Jepang, Amerika Serikat mengubah total sandi atau kode rahasia perang dengan menggunakan bahasa lokal, yaitu bahasa Indian Navajo. Amerika Serikat mampu meretas dan memecahkan kode rahasia Jepang, namun Jepang kalah dibidang ini, bahkan hingga sekarang tidak ada yang mampu memecahkannya. Tentang kisah kode rahasia ini, dengan cantiknya dikisahkan ke dalam film berjudul Windstalker (2002). Dengan demikian bahwa kode rahasia dalam perang amat menentukan keberhasilan, selayaknya kemenangan sekutu dalam Perang Eropa (PD 2) di front Barat dan Timur, dan itu terbukti dalam perang Asia-Pasifik ini, yakni pecahkan kode !.

Jepang kalah dengan menanggung malu juga kerusakan besar, namun kemudian kenapa hanya Jepang yang muncul sebagai aktor utama dalam PD 2 di Asia Pasifik ?. Pilihan Jepang dengan diikuti banyak wilayah yang dijajahnya, sudah barang tentu bukan pengambilan keputusan yang gegabah. Menyerang sebuah negara hingga mendudukinya untuk kemudian sumber-sumbernya diperas, hingga tahun 1945 seakan menjadi hal yang biasa, lazim. Inilah yang menurut Pak Sucipto Ardi sebagai ‘kondisi yang terjadi ketika itu’, beliau menyebutnya sebagai Jiwa Jaman. Ingin menjadi teratas, memegang supremasi sebagai negara kuat walupun dengan cara menjajah dan pastinya melumat pihak yang menghalanginya, adalah cara yang “masuk akal” sebelum PBB, solidaritas dunia akan perdamaian, dan mudahnya akses teknologi informasi yang mengglobal, menjadi “kekuatan pengontrol utama” jaman sekarang ini.

Jepang hanya melakukannya oleh karena mereka memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Rasa percayanya ini dibangun nyaris selama 100 tahun sejak Komodor Perry dari Amerika “mampu” mayakinkan Jepang untuk kemudian melakukan restorasi pada jaman Kaisar Meiji. Di paruh kedua abad ke-19, putra terbaik Jepang dikirim kenegara-negara yang mapan soal teknologi, seperti teknologi kelistrikan, kemiliteran, keotomotifan, dan infrastruktur seperti bendungan. Jerman, Perancis, Belanda, dan Amerika menjadi destinasi kaum terpelajar Jepang. Dalam jangka waktu 50 tahun, tidak ada negara di Asia-Pasifik mampu mengubah negaranya yang tradisional menjadi moderen, kecuali Nippon. Jepang menjadi kekuatan besar di Asia, bahkan angkatan lautnya menjadi pesaing utama Inggris yang terkenal dengan sebutan “England Rule The Waves”. Kemoderenannya ini, dibuktikan dengan memenangkan perang melawan beruang putih besar bernama Rusia pada tahun 1905. Bak orang mabuk kepayang, kepercayaan dirinya “diteruskan” dengan mulai menginvasi ke daratan Manchuria di tahun 1931, hingga ke pesisir Australia tahun 1942.

Jiwa jaman dan kepercayaan diri inilah yang turut serta membawa Jepang kemudian memilih untuk meluluh-lantakkan kekuatan Erop-Amerika di Asia Pasifik. Diskusi tentang Jepang, melalui bingkai PD 2, khususnya Pearl Harbour, selalu menarik untuk diikuti. Tak terasa 90 menit sudah berakhir, dan suara pengingat untuk hadir ke masjid guna laksanakan sholat maghrib berkumandang. Diskusi lalu segera usai, dan menyisakan keingintahuan lainnya, dan memang harus begitu. 

Pembelajar tidak pernah puas, pembelajar terus belajar!

Menulislah, maka jadilah manusia merdeka !