Hari Terakhir Kartosoewirjo, 81 Foto Eksekusi Imam DI/TII


Buku yang akan di-intip kali ini terbit pertama kali di tahun 2012. "Iklan" yang berkembang, berseliweran, dan berseloroh bahwa buku karya Fadli Zon ini adalah buku satu-satunya yang menerbitkan foto-foto terakhir pemimpin DI/TII ketika akan dieksekusi hingga pemakamannya. Foto yang ada di buku ini belum ada yang dimunculkan ke media lokal ataupun internasional. Fadli Zon, tidak hanya sekedar yang dikenal seperti sekarang ini, yaitu seorang politikus Partai Gerindra, namun dia adalah dosen UI dan menulis buku.

Buku ini adalah saah satu karyanya. Mari disimak dengan baik.


A. Deskripsi

Buku yang berwarna hijau (terang dibagian sampul belakang dan pekat di sampul depan) terasa begitu eksklusif. Hard cover dengan permukaan licin, begitu pula disetiap lembar halamannya dengan lembar khusus untuk gambar, bukan kertas HVS lazimnya buku pada umumnya, persis majalah apalagi ukurannya setara kertas A4.

Buku ini berisi dua tulisan, yaitu Fadli Zon yang menguraikan “kisah foto dan perjalanan Kartosuwiryo” dan Kata pengantar oleh Mohammad Iskandar. Foto-foto yang dihadirkan dimulai dari awal ketika membuka buku, dan seterusnya hingga tutup buku tepat setelah kedua tulisan tersebut.


B. Sejarah dan Potensi Penulisan Sejarah Baru di Indonesia

Sebagai seorang sejarawan akademis, Fadli Zon dan Muhammad Iskandar yang merupakan dosen UI, telah berhasil mengungkapkan fakta sejarah. Fakta sejarah yang dibungkus dalam buku ini, bukan fakta “ecek-ecek” masa lalu Indonesia, namun sebuah bongkahan “historic puzzle” yang mengungkap kesimpangsiuran kematian, eksekusi, dan makam pentolan gerakan DI/TII yang oleh pemerintah Soekarno dicap sebagai Pemberontak dan bagi pengikutnya sebagai Imam (sebuah istilah yang meninggikan derajat seseorang).

Sebagai tulisan sejarah, mengutip istilah yang diungkapkan (alm.) Koentowijotyo dalam bukunya: Metodologi Sejarah dan Penjelasan Sejarah, Fadli zon memenuhi “tuntutan” tulisan sejarah sebagai “master of detail”, setidaknya mendekati. Tulisan yang beliau uraikan memang terperinci yang berdasarkan foto yang berjumlah 81 itu. Diceritakan bagaimana Kartosuwiryo ketika bertemu keluarganya utnuk terakhir kali, menyantap nasi padang, dan memberi wejangan kepada keluarganya. Dalam menghadapi eksekusi, Fadli Zon, menyatakan bahwa Imam yang sudah renta dan terlihat tidak sehat ini, terlihat tegar tak ada ketakutan dan pasrah menyambut kematian.

Sebagai seorang muslim dan pejuang, kematian bukanlah sebagai momok menakutkan bagi Kartosuwiryo. Sholat taubah menghiasi dan dilanjutkan ke dalam kapal laut mili tentara. Dalam kapal laut tersebut, sang Imam diperiksa kesehatannya dan bajunya diganti dengan serba putih, kecuali peci yang tetap melekat hingga eksekusi berakhir.

Setelah Kartosuwiryo diturunkan dari kapal, patok berdiri tegak sudah menunggunya. Segera pasukan melakukan prosesi ala militer yang disaksikan beberapa orang yang terlihat berseragam dan terlihat kaku sebagai ciri militer. Suara tembakan membahana, lima buah peluru bersarang di dada kiri, dan digenapkan oleh seorang pemimpin eksekusi dengan menembak kepala kakek tua itu dari jarak dekat. Untuk memastikannya, dokter langsung memeriksa. Pelaku dan pencipta sejarah di Indonesia wafat. Pemandian dilakukan dengan air laut dan pengkafanan oleh bapak yang berpakain sipil yang berpeci.

Di pulau Ubi ini, di kawasan pulau seribu DKI Jakarta, 16 September tahun 1962, orang yang dapat disebut sebagai kawan dan lawan Pemimpin Besar Revolusi Indonesia: Soekarno, dieksekusi dan dimakamkan. Sejarah Kartosuwiryo berakhir di sini, dengan tanda makam berupa pohon besar.

Bagi tradisi penulisan sejarah Indonesia, modal foto untuk mengkisahkan masa lalu, bukanlah hal yang umum dilakoni selama ini. Gaya ini adalah tergolong sebagai gaya baru karena Sejarah Indonesia lazim dibangun dengan arsip tertulis dan berbagai pendukung lainnya seperti karya arkeologis manusia yang menyejarah. Dengan demikian, Fadli Zon telah membuka, walaupun beliau bukan pertama, potensi baru penulisan sejarah Indonesia.

Penulisan gaya baru ini sepertinya telah dimulai oleh Bambang Purwanto dan rekan pada tahun 2008 dengan menerbitkan buku berjudul: Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia yang merupakan kumpulan tulisan dari sejarawan Indonesia atau sejarawan luar yang “Indonesianis”. Di salah satu tulisan, diajaklah para sejarawan untuk menulis sejarah dengan tidak hanya bermodal sumber tertulis dan lisan, namun dengan foto. Foto dapat “berbicara” tentang masa lalu, dan sampai tahun ketika buku tersebut terbit, diakui belum banyak sejarawan Indonesia yang melakukannya.

Buku karya Fadli Zon  Hari Terakhir Kartosuwiryo, bagi saya belum memanfaatkan sepenuhnya foto sebagai “juru bicara” masa lalu. Kisah sejarah berdasarkan foto eksklusif yang dibangun, berupa “uraian singkat” dari langkah-langkah terperinci menuju kematian sang Imam. Analisis sumber dan tampilan foto tersebut belum dikaji dari segi cahaya, tipe kamera yang memotretnya, siapa fotografernya, siapa pemilik foto atau kolektor yang kemudian menjualnya kepada Fadzli Zon, deskripsi detail tentang fakta foto dan isi foto, begitupula interpretasi “menghidupkan” kumpulan foto tersebut menjadi suasana sejarah dan memunculkan “jiwa jaman”-nya.

Masih banyak pekerjaan sejarah untuk mengungkap sejarah dari 81 foto yang diperoleh Fadli Zon melaui “penemuan” foto eksklusif yang secara kebetulan pada tanggal 7  Agustus 2010 lalu. Oleh karena itu, bagi saya, sebagai buku sejarah, kisah akhir hayat Kartosuwiryo ini tergolong tipis untuk ukuran buku sejarah, namun “tebal” sebagai sumber sejarah. Bagi sejarawan akademis ataupun bukan, karya dosen UI ini terasa begitu “menggoda”, bukan hanya untuk dibaca dan diperhatikan foto cara-cara mengeksekusi secara visual yang jarang diurutkan secara tahap demi tahap dan vulgar, namun juga sebagai modal perluasan menguak tabir kisah sejarah yang sampai ini kontinuitasnya masih terasa, baik itu untuk pembelajaran dari sejarah, bahkan realita terkait dengan isu terorisme di Indonesia.

Peristiwa “teroris solo” ditahun 2011-2012 lalu yang diyakini cukup lekat dengan kisah Kartosuwiryo karena dibagun oleh mantan-mantan DI/TII yang terus berjihad di Moro misalnya, terasa seperti memiliki keberlanjutan semangat emosional sejarah, dan ikatan ke-islaman melaui topangan informasi dari buku aktivis politik Parpol Gerindra ini. Buku yang terbit ketika hangat-hangatnya peristiwa tersebut, dan ditulis oleh politikus dari partai yang sedang nge-jago dalam Pilkada DKI ini, pada 5 September lalu,  telah menemukan pondasi momentum yang kuat. Ini dapat dilihat dari pemberitaan yang cukup massif, dan mantan-mantan aktivis DI/TII yang memenuhi Galeri Cipta II TIM Jakarta Pusat saat peluncuran buku.

Menurut saya, bagi seorang Jihadis, kematian seperti yang tergambarkan dalam buku Fadli Zon itu bukanlah yang mereka impikan, namun juga bukan yang mereka takutkan karena bagi mereka, kematian saat memperjuangkan amaliayah jihad adalah saat-saat yang ditunggu-tunggu. Buku ini yang bagi Fadli Zon adalah tidak lain bertujuan (mempublikasikannya) untuk mendudukan sejarah secara proposional, namun bisa jadi berubah tujuan sebagai “penyemangat dan penyulut kemarahan” bagi “generasi” baru DI/TII. Bukan tidak mungkin, kumpulan foto dapat merubah sejarah, bukan?.


C. Penutup

Terbit pertama kali di tahun 2012, buku yang harganya Rp.150.000 bukanlah harga yang mahal untuk menguak sejarah yang selama 50 tahun belakangan ini buram. Buku yang tergolong eksklusif itu, baik dari kemasan, dan foto-fotonya, mampu membawa para pembaca kepada gambaran kisah pengambilan nyawa manusia secara paksa secara bertahap diakhir hayatnya. Sebagai bacaan sejarah, para pembaca tidak menemukan kisah siapa dan bagaimana sepak terjang seorang Imam secara holistik, karena buku ini secara metodologis lebih tepat sebagai buku dengan makna “pancingan” yang mencoba mengantarkan para penulis sejarah (khusunya tentang Kartosuwiryo) melalui sumber foto. Pesan yang dapat ditangkap adalah foto memiliki potensi yang dapat dengan cerdas dijadikan sumber sejarah, dan oleh karenanya tidak berlebihan, jika buku ini turut serta dalam mengembangkan penulisan sejarah gaya baru di Indonesia.

Sebagai penyuka, penikmat sejarah dan sejarawan, saya menempatkan buku tersebut ke ranah yang terpenting, yaitu “belajar dari sejarah”.  Semoga manusia Indonesia, dapat menyelesaikan berbagai tantangan kehidupan dengan cara arif dan bijaksana sebagai tujuan “akhir” belajar dari sejarah. Amiiin.

Posting Komentar

9 Komentar

  1. Luar biasa. Makasih Pak sudah menambah wawasan ternyata kartosuwiryo itu seorang Imam yah? Wlpn citranya sangat negatif krn gerombolannya begitu biadab, kata nenek moyang saya.

    BalasHapus
  2. Resensi buku sejarah. Terima kasih infonya, Pak Cip.

    BalasHapus
  3. Informatif,

    Sejarah memang menarik
    Meski terkadang saya sering meragu dengan keotentikannya 🙏

    BalasHapus
  4. Buku yang luar biasa, memuat sejarah yang belum terkuak. Resensi yang mantul.

    BalasHapus
  5. Mempelajari sejarah, kadangkala memang simpang siur. Apalagi sejarah itu bisa berubah-ubah, bahkan tergantung dengan kondisi politik yang ada.

    Kartosuwiryo ini dalam pelajaran sejarah memang dikenal pemberontak, tetapi yang sebenarnya mungkin beliau ingin menerapkan syariat Islam di negara ini. Ah, yang mana yang benar? Baca buku ini saja deh!

    BalasHapus
  6. Resensi buku yang sangat lengkap, saya suka baca buku sejarah.

    BalasHapus
  7. Sudah lama tidak mampir ke blog bersejarah ini...
    Kali ini masih tetap memberikan kesan menarik pada diri saya settiap berkunjung ke blog krantoa.

    Sukses selalu Pak Cip

    BalasHapus
  8. Terima kasih paparannya. Menarik sekali dalam penyajiannya dan nikmat membacanya. Keren.

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, mari bangun argumen bukan sentimen