Tulisan saya dimuat dalam bentuk cetak, bukanlah untuk kali pertama. Namun, untuk sekarang ini adalah yang pertama kalinya. Barangkali sudah suratan, setelah 13 tahun nge-blog, sekarang tulisan saya masuk buku. 

Tulisan yang dibukukan ini dikirim sekitar pertengahan Desember 2020, dan sampai di saya pada Jum'at, 22 Januari 2021. Kondisi fisik sedang tidak fit, tampilan berjaket jadi saksinya (lihat foto paling bawah). 

Tulisan saya dicetak pada buku jilid kedua, seperti apa isinya, silahkan disimak dengan baik berikut ini:


Fungsi Laten PJJ-BDR di Selatan Ibu Kota

Oleh

Sucipo Ardi, S.Pd.

Ketika tulisan ini dibuat, proses pembelajaran jarak jauh (PJJ) mulai “mengendur” setelah penilaian akhir semester digelar. Pengayaan dan remedial menjadi agenda dalam minggu-minggu menuju pembagian raport. Akhir semester ganjil ini merupakan bulan ke-9 PJJ di Jakarta digelar. Selama ini 3 huruf sakti: “PJJ” bisa jadi singkatan yang paling popular di seluruh wilayah Indonesia. Di Ibukotanya, bahkan singkatan PJJ mengalami “penajaman”. Di Jakarta Selatan khususnya, PJJ kemudian lazim di sebut BDR alias Belajar dari Rumah. BDR adalah istilah yang mengaskan keberpihakan dunia pendidikan Jakarta akan kepatuhan pada protokol kesehatan, yaitu tetap di rumah (stay at home). PJJ ditengarai memberikan keabsahan akan ketidakjelasan lokasi pembelajaran yang bisa jadi melanggar ketentuan protol kesehatan. PJJ tidak salah jika belajar di mall, tidak bertentangan jika belajar di pasar, oleh karenanya ditegaskan untuk memakai istilah BDR = Belajar (jarak jauh) dari rumah. Tujuan diantara keduanya tersampaikan: PJJ-nya “dapat”, protol kesehatan juga “kena”.  Hal ini sepertinya hasil evaluasi PJJ di pertengahan semester genap hingga kenaikan kelas di tahun 2020. Penggunaan istilah sudah tidak lagi menjadi evaluasi di semester ganjil ini saja, tapi lebih luas lagi. Secara umum, tulisan ini salah satunya.

Memulai sesuatu yang baru memang bukan perkara mudah, namun bukan berarti tidak bisa dilakukan. Beradaptasi adalah cara terbaik dalam menyikapi perubahan yang ada. Kekhawatiran defisit pengetahuan dan minim proses pembentukan karakter secara umum, menjadi keprihatinan guru.  Oleh karenanya, guru berusaha sekuat tenaga menyajikan pembelajarannya dengan cara-cara yang memang menurutnya mampu “mengobati” keprihatinan mereka. Sungguh menarik, nyaris semua kebiasaan guru dalam proses pembelajaran mengalami perubahan, dan apa yang dipilih guru semaksimal mungkin diserahkan ke guru. Ada guru yang mengikuti anjuran atau saran yang ditawarkan oleh kepala sekolah atau pihak dinas pendidikan, ada pula guru yang melakukan dengan caranya sendiri. Guru seakan merdeka penuh, dan mandiri dalam mengelolanya.

Ketika akhirnya dipertengahan Maret 2020 sekolah diliburkan, maka pola pembelajaran baru digulirkan. Bagi saya, ini bukanlah hal yang benar-benar baru. Sekitar 10 tahun lalu, saya sudah memulainya walaupun baru sekedar menuliskan kisi-kisi ujian juga remedial di blog. Sejak 2007 saya nge-blog, dan ketika banyak peserta didik “bersahabat” dengan dunia internet, saya mulai mengajak mereka untuk tidak bergantung 100 persen kepada pertemuan tatap muka dengan guru. Mereka bisa membaca sendiri info terkait pembelajaran yang saya ampu melalui media internet, yaitu blog. 

Setahun sebelum pandemik mendera dunia pendidikan, saya malahan sudah menerapkan PJJ yang lebih luas dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kuliah tatap muka dalam rangka PPG (Pendidikan Profesi Guru) di akhir tahun 2019 pada universitas negeri di Jakarta, membawa saya harus mengemas pembelajaran jarak jauh berbasis blog dan komunikasi langsung ke peserta didik melalui aplikasi Whatsapp (WA). Peserta didik di sekolah menjalankan pembelajaran tatap muka seperti biasanya, namun untuk pelajaran yang saya ampu, materi pembelajaran dan penugasan diakses melalui blog. Bisa dibilang, kalau sebelum tahun 2020 baru sekitar 50-an persen PJJ-nya, namun ditahun 2020 full 100 persen. Pengalaman yang sudah uraikan, saya anggap sebagai sebuah keuntungan dalam menghadapi PJJ dimasa pandemik ini. 

Di hari-hari berikutnya saat BDR tahun 2020, semua terlihat berjalan sebagaimana mestinya. Komunikasi dasar melalui WA Group, dan semua pembelajaran tersaji di blog saya. Proses “perkenalan” PJJ yang sudah dijalani, sebelum masa pandemik ini, rasanya memudahkan saya beradaptasi dengan kenyataan. Saya merasa enjoy. Bagaimana dengan peserta didiknya ?. 

Saya mengampu kelas 10 dan 12, kedua-duanya adalah jurusan IPS yang dikenal lebih “berenerjik” dan sedikit nakal. Sedari awal, saya memilih WA Grup sebagai media dasar pembelajaran. Hal ini saya lakukan atas pertimbangan empatik. Peserta didik di sekolah kami, tidak semuanya berstatus ekonomi mampu, selalu saja ada disetiap kelas berada di bawah standar ekonomi kebanyakan masyarak di Jakarta. Di ujung selatan Jakarta yang berbatasan dengan provinsi berbeda, saya menemukan peserta didik yang kesulitan ekonomi, sehingga akses internet, bahkan juga handphone menjadi kendala. WA Grup inilah yang saya jadikan semacam saluran “call centre”, “help desk” atau “recepsionis” mata pelajaran yang saya ampu.

Pembentukan karakter diutamakan, oleh karenanya saya menghindari aplikasi yang memungkinkan peserta didik mampu berbuat curang dan berbohong. Pada aplikasi absen tertentu, mereka bisa titip absen ke temannya, atau bahkan memakai jasa joki. Membentengi hal ini, secara teknis mulai dari absensi, dan pengiriman tugas saya masukkan ke dalam 1 saluran, yaitu WA, baik itu via grup ataupun pribadi. Peserta didik hanya memakai 1 nomor WA, dan absensi menggunakan voice note (VN). Absensi berisi suara peserta didik dengan menyebutkan nama lengkap, no. absen, dan tanggal pembelajaran hari ini sehingga absen selalu baru disetiap kali pertemuan. Selain mengembangkan sikap jujur, cara ini untuk membangun kepercayaan diri juga memeriksa kesehatan peserta didik yang terdengar dari suara yang dilisankan.

Penugasan yang dikirim melalui WA pribadi atau grup di tiap kelasnya, saya patok dengan tulisan tangan. Setiap tugas, baik itu mandiri ataupun kelompok, menggunakan tulisan tangan di atas kertas dan hasilnya di foto scan. Selain memudahkan dan ramah dengan menulis tangan, juga untuk penyempurnaan asumsi dasar bahwa proses belajar dengan metode membaca dan mendengar akan jauh lebih baik hasilnya jika kemudian dituliskan. Keterbatasan kepemilikan komputer atau laptop juga menjadi pertimbangan mengapa kemudian saya memilih untuk selesaikan tugas dengan tulis tangan. Kelebihan dengan cara ini setidaknya ada 2, pertama saya lebih mengenal tulisan peserta didik, dan ini penting terutama untuk kelas 10 yang baru masuk sekolah, dan kedua ialah ramah dengan “kantong” atau kemampuan ekonomi peserta didik. Hasil pekerjaan peserta didik, yang dikirim via WA grup, saya membahasnya secara random dan memberikan apresiasi. Beberapa contoh seperti berikut ini: “keren nih jawabannya”, “cerdas”, “uraiannya berkelas”, dan pujian sejenis yang familiar dengan telinga remaja jaman now. Tidak lupa, batas akhir pengumpulan tugas dimusyawarahkan bersama peserta didik. Saya seringkali menanyakannya dengan kalimat: “enaknya, ngumpulin tugas jam berapa ya gaes ?’. Dengan segera, peserta didik merespon, dan apapun itu, nanti hasilnya merupakan keputusan bersama. Cara ini dibangun dengan harapan agar peserta didik bertanggung jawab atas keputusannya sehingga karya dan pengumpulan tugas terasa nyaman, tidak terburu-buru, dan semoga tidak terbebani secara psikologi. Hasilnya membanggakan, mereka tidak ada satupun yang terlambat mengumpulkan tugas.

Untuk tugas itu tersendiri, saya uraikan pada blog. Setelah diinfokan di dalam WA grup, peserta didik diajak untuk mengunjungi blog guna membaca apa yang harus dilakukan dalam BDR pada tiap pertemuannya. Di sini letak menariknya BDR. Guru berjibaku untuk membuat materi pembelajaran dan bahan tayang yang diharapkan menarik untuk peserta didik sekaligus memudahkan dalam mencernanya dalam kondisi belajar dari rumah. Saya menyajikan dalam kalimat-halimat yang soft, simple, dan komunikatif sesuai karakter remaja jaman sekarang. Ini semua dilakukan agar proses BDR tidak terasa membosankan, akan tetapi agar lebih terasa “renyah”, baik itu dalam bentuk uraian maupun inti sari yang disajikan dalam bentuk power point (Ppt). Di dalam blog, saya juga mencantumkan link video terkait materi pembelajaran, termasuk RPM (Rencana Pembelajaan Mingguan) yang di salah satu bagiannya khusus berpesan kepada orang tua agar mendampingi proses pembelajaran anaknya dan tetap menerapkan protokol kesehatan. Dengan demikian, antara saya, murid, dan orang tua memiliki satu persamaan “apa yang harus dilakukan dalam pertemuan minggu ini”.  Kolaborasi ini diharapkan, diseluruh elemen dapat saling menguatkan untuk menciptakan kondisi belajar yang bertanggung jawab, bukan hanya dari sekolah akan tetapi juga dari keluarga.

Kolaborasi itu juga menyasar kepada usaha pencapaian kompetensi, walaupun dimasa pandemik ini bersifat khusus, dan diberikan kompensasi untuk memilih KD yang essensial, tetap saja ada kompetensi yang harus dituntaskan. Ada kalanya guna mencapainya, diharuskan untuk kerja secara berkelompok. Saya memberikan kebebasan untuk menentukan anggota kelompoknya, hal ini dilakukan dalam rangka untuk menumbuh kembangkan, lagi-lagi, soal tanggung jawab. Saya menemukan di beberapa kelas, ada saja peserta didik yang tidak kebagian kelompok dan terlantar. Orang tua peserta didik tersebut, bahkan pernah berkomunikasi, dan saya nyatakan: “biar saja, anaknya sendiri yang berusaha untuk mencari kelompok mana yang mau menerimanya, biarlah si anak bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri sebagai peserta didik”. Sepertinya orang tua belum memahami belajar mandiri, belajar bertanggung jawab, hingga harus “lompat pagar” demi si anak. 

Berdasarkan uraian diatas, sebenarnya masa pandemik ini adalah proses menjadikan dunia pendidikan Indonesia, khususnya Jakarta menjadi andragogik (dewasa, mandiri). Secara parsial, saya menyadari inilah saatnya mengikis paedagogik (anak, bergantung kepada guru) dan berubah menjadi andragogik. Proses menuju kearah sana, saya mulai dengan para peserta didik ikut menentukan waktu pengumpulan tugas, menempatkan saya selaku guru sebagai fasilitator, dan bertanggung jawab terhadap pemilihan anggota kelompok kerja. Harus diakui proses mandiri bukan hal yang mudah, terlebih dimasyarakat pembelajar di sekolah menengah atas yang selama ini berkonsep “dependent” (paedagogik). BDR tak ayal bagaikan sekolah seperti biasanya. Lembaga pendidikan (sekolah) selama pandemik ini, secara menyeluruh tidak sukses membawa peserta didik untuk mandiri dan bertanggung jawab akan status dan perannya selaku insan pembelajar. Pernah saya masuk room WA grup sengaja saya telat-kan selama 30 menit untuk melihat respon peserta didik, alhasil tidak ada yang tergerak untuk bertindak sebagai wujud “peserta didik butuh ilmu (via guru), karena karakter tidak hanya bisa dipelajari dari buku-buku, namun amat butuh model hidup seperti guru.

Lembaga pendidikan selama 9 bulan belakangan ini, dalam kondisi khusus karena didera wabah penyakit, pada dasarnya hanya berkutat memberikan fungsi dasarnya yaitu untuk mengembangkan potensi diri peserta didik melalui pemberian pelayanan pendidikan. Itulah fungsi nyata, dan fungsi latennya tidak disiasati dengan tepat. Fungsi laten yang terselubung, atau tidak disadari dari lembaga pendidikan masih tetap eksis, yaitu memperpanjang masa ketidakdewasaan. Dengan demikian, masa pandemik ini membuat lembaga pendidikan seperti sekolah tetap menjadi roda penggerak untuk menciptakan peserta didik tetap pada kondisi yang sama seperti sebelum ada Covid-19. PJJ/BDR memilki andil memperpanjang masa ketidakdewasaan peserta didik.