Secara sederhana, teori belajar konstruktivis menjelaskan bahwa proses belajar seseorang adalah dengan cara membangun pengetahuan yang sudah dimilikinya, dan memaknai berdasarkan pengetahuan yang dimiliknya. Artinya, ketika mendapat pengetahuan yang baru akan saling memegaruhi dengan pengetahuan terdahulu, selanjutnya dikontruksikan/dibangun menjadi kreasi tersendiri yang seringkali berbeda dengan individu lainnya.

Dalam sebuah diskusi, muncul permasalahan sebagai berikut:

Konstruktivistik mengarahkan perhatiannya pada bagaimana seseorang mengkonstruksi pengetahuan dari pengalamannya, struktur mental, dan keyakinan yang digunakan untuk menginterpretasikan obyek dan peristiwa. Berdasarkan teori tersebut bagaimanakah bapak ibu dalam menerapkan teori tersebut dalam pembelajaran sejarah?

Dengan kata lain, diskusi ini ingin menjawab: “bagaimana menerapkan teori konstruktivis dalam pembelajaran sejarah ?”.

Menjawab diskusi ini saya teringat tentang cara belajar konstruktivis yang dicontohkan dengan pembicaraan santai antara seorang anak dengan ayahnya ketika mereka jalan-jalan di pinggir pantai dan menemukan kerang. Sang anak bertanya mulai dari apa, kenapa, hingga bagaimana kerang tersebut banyak jenis bentuknya, hingga mampu bertahan hidup di sekeliling manusia yang seringkali gemar memakannya. Sang Ayah “membiarkan” pikiran “liar” sang anak merasuk ke ruang-ruang pondasi pikirannya sendiri yang hakikatnya ialah apa yang telah anak tersebut miliki sebelumnya. Sang ayah hanya sekedar menjadi “satpam” agar pikiran anaknya tidak keluar “pagar”, dan menjadi “help desk” sang anak sehingga terbangunlah sebuah produk pemikiran dari interpretasi sang anak. Inilah point penting pembelajaran versi konstruktivis. Dalam bahasa anak muda sekarang adalah “happening”. 

Ini menjadi menarik karena murid di sekolah tidak mengalami peristiwa sejarah yang dijadikan materi di sekolah. Inilah menjadi tantangan bagi guru sejarah. Oleh karenanya, dalam pelaksanaan pembelajaran sejarah, saya mengkondisikan “menyambungkan” pengalaman siswa yang sudah mereka miliki dengan tayangan (video, misalnya) peristiwa sejarah. Tujuannya ialah siswa dapat masuk ke dalam konteks dan dapat memilik “verstehen” akan sejarah. Jiwa jaman diharapkan mampu tergambarkan di ruang imajinasinya. Pada bagian inilah, siswa membangun dan menghasilkan struktur pemikirannya sendiri. Pertanyaan dan pemikiran analitis dan kritis membutuhkan bimbingan guru. Dengan kata lain, siswa akan dikatakan sukses jika mampu mengorganisis pengalaman (mengkonstruksikan pemikirannya) sendiri dan bukan merefleksikan apa yang diperintahkan oleh guru.

Dalam prakteknya, pembelajaran sejarah dalam berbagai bentuk metode dapat diterapkan. Hal ini disebabkan karena salah satu muara besarnya ialah menghadirkan cara berfikir kritis, merdeka, mandiri, dan bertanggungjawab. Siswa menjadi “aktor” utamanya.

Pembelajaran berbasis masalah, discovery learning, penugasan otentik, dan diskusi pernah saya terapkan. Salah satunya ialah diskusi Siswa Kelas 11 Sejarah Peminatan yang membahas salah satu kontroversi sejarah: “Indonesia Dijajah 350 Tahun”. Mereka dengan pengetahuan yang dimilikinya, mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan kritis dan kemudian meragukan klaim sejarah tersebut. Doktrin puluhan tahun yang merasuki banyak sanubari orang indonesia, terpinggirkan dengan cara pembelajaran konstruktivis. Kita sebagai guru menyadari bahwa tidak ada kebenaran absolute, yang ada ialah majemuk. Oleh karenanya dibutuhkan pendapat dan kolaborasi dengan pihak lain, sehingga kebenaran yang sifatnya subyektif, dapat meningkat menjadi intersubyektif. Low menjadi hard.

Dengan demikian, penerapan teori konstruktivis dalam pembelajaran sejarah dapat porsi dan peluang yang luas, tinggal tugas guru yang menyiapkan perangkat strategi yang mampu menolong siswa dalam belajar, yakni menjadi fasilitator dalam membangun dan menghasilkan pengetahuan melalui cara berfikir kritis dan bertanggungjawab.