Bagaimana Caranya Bisa Menulis ?



Dalam komunitas Lagerunal, salah satu agendanya ialah #selasaberbagi. Saya kebagian untuk menceritakan dan berbagi pengalaman tentang menulis. Uraian dibawah ini adalah konten belajar bersama #selasaberbagi yang dilaksanakan pada grup WA Lagerunal. 

Selamat menikmati


Assalamualaikum, selamat sore, salam sehat semuanya.

Sobat Lage, sebelum saya mulai kegiatan #selasaberbagi, saya ingin ucapkan Selamat Hari Ibu untuk ibu-ibu guru yang ada dalam komunitas ini. Ibu itu keren, number one, ngak ada yang bisa mengalahkannya. Oya, untuk para ayah jangan ngambek, saya tidak berikan ucapan karen sudah lewat ya…Hari Ayah jatuh pada tanggal 12 Nopember.

Berikutnya, saya ucapkan terima kasih kepada anggota grup karena masih tetap berada di komunitas ini untuk belajar bersama. Pada kesempatan ini, ijinkan saya berbagi pengalaman yang saya beri judul “Kisah Menulis di Blog”.

Saya yakin, rekan-rekan yang gabung komunitas ini ingin mendapatkan dampak positif atau kebaikan, baik itu bagi mereka yang masih awal dan butuh tuntunan atau yang sudah lanjutan yang berkeinginan meluaskan jaringan dan kemampuan menulisnya.

Oya, apa kabar baik. Kabar baiknya adalah menulis itu bukan “give” /anugrah atau bawaan lahir, tapio menulis ini adalah budaya yang artinya produk kreasi, atau hasil belajar. Oleh karenanya, semua orang memiliki potensi yang sama untuk bisa menulis.

Jadi, bagaimana caranya bisa menulis ?

  1. Mulailah menulis. Tulis apa saja, bebas.
  2. Tulislah yang paling disukai dan pahami.
  3. Mulailah tulisan dengan tema-tema yang dekat, misalnya tentang kebiasaan yang hidup di sekitar rumah. No.1-3, kalau berisikan curhat, itu bukan masalah karena kalau dilakukan secara rutin, itu akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Suatu hari nanti bisa jadi buku lho….dahulu, saya membaca buku Sosiologi Pedesaan, sang adalah penulis adalah seorang professor. Beliau memulai tulisan bukunya dengan masa kecilnya melihat bagaimana tembak menembak terjadi di Ladang Aceh yang kemudian dia susun mengikuti rangkaian teori konflik lalu dibangun untuk melihat bagaimana konsep sosiologis desa tempat tinggalnya. Bisa kebayangkan, sebuah karya ilmiah dibangun dari sebuah pengalaman masa kecilnya?. Curhat itu bisa jadi keren !.
  4. Setelah dirasa “cukup” dengan yang diatas, mulailah “belajar sedikit lompat pagar” guna menulis yang bersifat agak serius, semisal artikel. Ingat, jangan pernah ragu dan takut salah.
  5. Ingat, nutrisi yang paling baik untuk menulis adalah membaca dan mengaktifkan indera. Apa yang dirasa, dapat menjadi pemantik sebuah tulisan. Memperkaya bacaan dan membuat peka indera ini bertujuan agar tulisan yang dihasilkan “tidak kering”.
  6. Mulailah menyediakan waktu tetap untuk menulis, misalnya waktu menulis pukul 21.00-22.00 WIB/WITA/WIT. Bangunlah kebiasaan menulis  seperti jam kerja/office hour.
  7. Sediakan note book/buku saku special untuk merekam ide-ide pokok yang muncul seketika, bawalah setiap hari. Ini saya lakukan, hingga kini. Hasilnya menyenangkan!.
  8. Para ahli berpendapat: “menulislah ketika anda sudah siap !”. Ini ada benarnya karena kalau kita siap maka menulis rasanya seperti air mengalir. Namun, kapankah kita siap ?. Nah lo,….oleh karenanya sejak lama saya tidak memakai pendapat ini, malah saya menggunakan kalimat-kalimat para penjahat di film-film barat : “ready or not here I come”. Yakinlah, suatu hari nanti kalau kita niatkan sebagai penulis akan datang masanya: “nulis dateline”, dan tidak peduli siap atau tidak, apalagi penulis berbobot, ia akan layaknya sinetron yang “kejar tayang”. Jadi, siap setiap saat ya sobat lage.
  9. No. 1-8 itu nulisnya dimana ?. ada yang langsung di word, corat-coret di note book, atau langsung di blog. Soal ini adalah style masing-masing. Sekarang bahkan ada yang “menulis dengan bicara” saya sudah melakukannya, walaupun ujung2nya di edit, tapi lebih memudahkan. Ini seperti “kita banget”, kenapa ? karena DNA orang Indonesia lebih kuat budaya tutur/lisan, dibanding menulis. Coba yaaa…
  10. Jangan segan-segan untuk evaluasi diri. Bacalah tulisan-tulisan di blog yang sudah berlalu. Senyam-senyum lucu, mungkin tertawa bebaskanlah. Jika tidak dirasa menyenangkan, maka beranikan diri untuk bilang bahwa karya kita kurang, bahkan buruk. Ini penting untuk menyadarkan kita agar mau belajar lagi, dan siap untuk dikritik.
  11. Tantangan yang ada di depan mata adalah, dimasa pandemic ini budaya menulis di blog begitu meriah namun akankah tetap terus mekar layaknya bunga?. Sekian lama menulis di blog saya menemukan satu hal penting bahwa: “banyak orang menulis di blog, namun saat yang bersamaan banyak pula yang meninggalkannya”. Gabung dalam komunitas adalah salah satu solusinya, “dekat dengan tukang minyak wangi, maka akan wangi pula”.

Demikian, semoga #selasaberbagi kali ini membawa manfaat. Amiin.

Salinan materi belajar bersama ini kemudian dilanjutkan dengan beberapa pertanyaan yang dilontarkan anggota komunitas. Salah satu yang pertanyaan yang bagus adalah terkait kesan yang selalu diingat selama nge-blog. Saya jawab bahwa yang berkesan menulis di blog adalah ketika para dosean menjadikan blog saya sebagai bahan ajarnya, dan juga menjadi bahan rujukan penulisan skripsi/penelitian. Ini adalah yang paling top, melebihi tulisan saya yang laku dijual.

Senang jika blog saya bermanfaat untuk orang lain.... 


Kegiatan Selasa sore itu juga ditulis oleh YusniSumarjiatiIndra

Posting Komentar

0 Komentar