Sandi Damai dalam Sejarah Politik Indonesia


Damai merupakan kondisi psikologis sesesorang yang tidak merasakan pertentangan. Jiwanya merasa tentram, tanpa ada gundah gulana. Dilihat keluar, damai itu berarti sudah tidak ada permusuhan dan bisa berangkulan, saling berpelukan, makan bersama dalam satu piring. Kira-kira demikian seperti apa maksud kata damai.

Peristiwa dua pihak yang dulu menjadi musuh bebuyutan kemudian kini dapat bergandengan tangan, adalah salah satu contohnya. Tahun lalu saling sindir, saling serang, malahan sekarang duduk bersama, ngopi bareng, ini juga contoh damai. Kedua pihak sudah berdamai, makanya bisa satu meja dalam tawa dan canda.

Indonesia kini, para elit politik utamanya sedang mengalami apa yang disebut damai. Dalam pemilu 2019, kita mengetahui bagaimana persaingan begitu tajam sehingga masuk ke dalam ranah mengkhawatirkan, bahkan membahayakan sebagai sebuah bangsa. Setelah diumumkan pemenangnya, keadaan bukan hanya bisa mereda, namun demo terjadi hingga ada jatuh korban. Dalam beberapa tahapan, akhirnya mampu mereda.

Prabowo adalah kubu lawan yang melangkah untuk damai dan bergabung dengan pemerintah yang dulu menjadi lawannya. Setahun kemudian, pasangan calon wakil presidennya, Sandiaga Uno mengikuti jejak calon presiden. Klop!, mungkin ini dapat disebut sebagai sandi damai. Sebuah kode yang menegaskan arti damai kepada bangsa dan negara. 

Berdasarkan maksud kata damai di awal tadi, maka dua pasangan yang bersama pendukungnya dulu saling berseteru kini bersatu padu. Pemandangan kini bak kopi susu yang sedang disedu diaduk menjadi satu. Dalam sejarah politik Indonesia, peristiwa ini kali pertamanya terjadi. Lihatlah, 1 pasangan pemenang bergabung dengan 1 pasangan yang kalah dalam pemilu presiden, bisa masuk dalam istana yang sama. Jika bukan karena damai, rasanya sulit ditakar dengan akal sehat.  



Posting Komentar

0 Komentar