Posmo, sebuah “persetubuhan” antara Ilmu Sejarah dengan Pendidikan sejarah?



Posmo sedang memunculkan wujudnya kini di Indonesia, baik dalam kesadaran penulisan sejarah, maupun (diharapkan) pada pendidikan sejarah. Mungkinkah itu terjadi???


Posmo

Posmo, atau kependekan dari Post Moderen merupakan gerakan yang menantang, bahkan menolak narasi besar yang diyakini kebenarannya. Grand theory yang selama ini diyakini kebenarannya, yang sudah dianggap suatu yang moderen, ternyata tidak mampu membaca kenyataan dilapangan, bahkan jauh kedepan. Posmo kemudian hidup sebagai kritikus moderen ini, dan melahirkan pandangan yang melawan realitas mapan selama ini. Indonesia tidak dijajah 350 tahun, VOC sebagai mitra perdaganagan kerajaan lokal adalah adalah salah satu dari sekian banyak kesadaran baru, dan ilmiah tetap menjadi pijakan utamanya.

Keadaan demikian diartikan sebuah gugatan, yaitu menggugat historiografi Indonesia. Lebih jauh lagi, menggugat indonesiasentris, sebuah pandangan yang seharusnya tidak memandang sejarah secara hitam-putih. Pihak luar, faktanya memainkan peranan. Bahkan, mampu menjungkirbalikkan sejarah yang selama ini diyakini kebenarannya, hidup, dan terdoktrin di warga negara Indonesia. Namun ilmiah.


Pendidikan Sejarah

Yang harus dipahami adalah ilmu sejarah dan pendidikan sejarah berbeda. Yang pertama penekanannya kepada “how to write history”, sedangkan yang kedua fokus kepada “how to teach history”. Kini, kesadaran baru dalam pembelajaran sejarah menghasilkan keselarasan dengan posmo. Sejarah disekolah, kini mulai meninggalkan sisem “pelajaran sejarah sebagai legitimasi kekuasaan”, persis semasa Orde Baru lalu. Pembelajaran kini, dilihat dari segi psikologi mulai beralih dari behavioristik ke arah humanistik dengan paradigma konstuktivisme. Konstruktivisme memberikan kebebasan anak didik mengeksplorasi, dan berpikir kritis. Berpikir kritis, dan pasti akan memunculkan pemikiran “kontroversi sejarah” merupakan salah satu sisi kesadaran akan “tanda tanya” besar pada narasi yang selam ini diyakini kebenarannya.


“Persetubuhan”

Posmo yang berkembang di ilmu sejarah, terlihat satu rel dengan pendidikan sejarah. Keduanya menggugat kenyataan masa lalu yang telah dianggap mapan. Artinya, membutuhkan sebuah pembaharuan karena yang berlalu diragukan kebenarannya.

Posting Komentar

0 Komentar